-->

Kisah Ratu Kalinyamat dan Simbol Penguasa Lautan Bangkitkan Kerajaan Maritim

Ratu Kalinyamat

Ratu Kalinyamat, sosok perempuan tangguh dari Jepara. Sosok tersebut banyak terekam dalam naskah-naskah tradisional maupun catatan-catatan penjelajah dunia yang singgah di pesisir Nusantara.

Ahli naskah Jawa dari Belanda punya dugaan kuat kalau akar mitologi orang Jawa tentang "ratu penguasa lautan" berasal dari tradisi di pesisir utara Jawa.

Dalam buku "Kerajaan Islam Pertama di Jawa" (1985) yang ditulis bersama rekannya de Graaf, dia menduga bahwa orang-orang Jepara punya tradisi kuat untuk melestarikan peradaban lamanya.

Salah satu buktinya adalah inskripsi yang ditemukan di pemakaman tua Mantingan atau Pamantinganyang terletak di sebelah selatan Jepara. Inskripsi itu berupa candra sengkala atau penanggalan bersandi yang menyatakan tahun pendiriannya. Tulisan itu berbunyi "rupa-brahmanawarna-sari" yang artinya tahun 1481 Jawa atau 1559 Masehi.

Pencatatan sejarah dengan menggunakan tahun Saka Jawa telah banyak diketahui para peneliti sebagai ciri khas peradaban Jawa sebelum Islam. 

Pamantingan yang diceritakan sebagai tempat Sunan Kalijaga membuat tiang tatal yang digunakan di Masjid Demak mempunyai kedekatan paralel dengan nama dewi Manting yang merupakan nama dewi padi di Bali.

Pigeaud menulis bahwa dewi menurut kepercayaan lama itu telah mengejawantah baik sebagai dewi tetumbuhan dan dewi kesuburan maupun sebagai Nyai Lara Kidul.

Muncul pertanyaan mengapa legenda Nyai Lara Kidul yang paralel dengan sejarah kebesaran kepemimpinan politik Ratu Kalinyamat sebagai penguasa lautan malah berkembang dari pesisir utara? Bukankah utara dalam bahasa Jawa disebut Lor, sedangkan Kidul artinya Selatan? Ini berkait dengan kosmologi Jawa kuno. 

Sederhana saja, dalam pemahaman orang Jawa sebelum adanya kompas, untuk menentukan arah angin gunung adalah patokan utamanya.

Gunung yang tinggi dalam bahasa Jawa kuno disebut Lor alias Luhur atau yang tinggi tempat dewa bersemayam. Sedangkan laut dalam kosmologi kuno yang sudah dilupakan selalu dinamakan kidul. 

Kamus bahasa Indonesia-Jawa Kuno terbitan Depdikbud (1992) menyebutkan bahwa kata selatan dalam bahasa Jawa Kuno bisa berarti daksina atau kidul atau kdwal atau mretyudesa atau udik. 

Kdwal atau keduwal dalam bahasa jawa sehari-hari bisa berarti penampung apa saja. Begitu juga dengan laut. Kosmologi orang Jawa Kuno bahkan kosmologi semua orang zaman pra modern menyebut laut sebagai tempat semua berakhir.

Sampai di sini, legenda Nyai Lara Kidul yang berkembang di Pamantingan jika dikaitkan dengan sejarah kebesaran Ratu Kalinyamat alias Ratu Arya Japara yang menyebal menjadi Ratu Pajajaran menjadi sangat masuk akal. 

Mitologi Mataram yang selalu mendongengkan perkawinan antara penguasa darat (Sultan) dengan penguasa laut (Ratu Kidul) sebenarnya adalah simbol untuk membangkitkan kembali kejayaan kerajaan maritim penguasa lautan.

Terima kasih atas kunjungannya
Kunjungi Toko BALINGGA SHOP Untuk Order Produk UKM dan UMKM Jateng.