Showing posts with label Pendidikan Sosial. Show all posts
Showing posts with label Pendidikan Sosial. Show all posts

[LENGKAP] MENGENAL TENTANG JAYABAYA

JAYABAYA

Maharaja Jayabhaya adalah raja Kadiri yang memerintah sekitar tahun 1135-1157. Nama gelar lengkapnya adalah Sri Maharaja Sang Mapanji Jayabhaya Sri Warmeswara Madhusudana Awataranindita Suhtrisingha Parakrama Uttunggadewa.

Pemerintahan Jayabhaya

Pemerintahan Jayabhaya dianggap sebagai masa kejayaan Kediri. Peninggalan sejarahnya berupa prasasti Hantang (1135), prasasti Talan (1136), dan prasasti Jepun (1144), serta Kakawin Bharatayuddha (1157).

Pada prasasti Hantang, atau biasa juga disebut prasasti Ngantang, terdapat semboyan Panjalu Jayati, yang artinya Kediri menang. Prasasti ini dikeluarkan sebagai piagam pengesahan anugerah untuk penduduk desa Ngantang yang setia pada Kediri selama perang melawan Jenggala.

Dari prasasti tersebut dapat diketahui kalau Jayabhaya adalah raja yang berhasil mengalahkan Janggala dan mempersatukannya kembali dengan Kediri. Kemenangan Jayabhaya atas Jenggala disimbolkan sebagai kemenangan Pandawa atas Korawa dalam kakawin Bharatayuddha yang digubah oleh empu Sedah dan empu Panuluh tahun 1157.

Jayabhaya dalam Tradisi Jawa

Nama besar Jayabhaya tercatat dalam ingatan masyarakat Jawa, sehingga namanya muncul dalam kesusastraan Jawa zaman Mataram Islam atau sesudahnya sebagai Prabu Jayabaya. Contoh naskah yang menyinggung tentang Jayabaya adalah Babad Tanah Jawi dan Serat Aji Pamasa.

Dikisahkan Jayabaya adalah titisan Wisnu. Negaranya bernama Widarba yang beribu kota di Mamenang. Ayahnya bernama Gendrayana, putra Yudayana, putra Parikesit, putra Abimanyu, putra Arjuna dari keluarga Pandawa.

Permaisuri Jayabaya bernama Dewi Sara. Lahir darinya Jayaamijaya, Dewi Pramesti, Dewi Pramuni, dan Dewi Sasanti. Jayaamijaya menurunkan raja-raja tanah Jawa, bahkan sampai Majapahit dan Mataram Islam. Sedangkan Pramesti menikah dengan Astradarma raja Yawastina, melahirkan Anglingdarma raja Malawapati.

Jayabaya turun takhta pada usia tua. Ia dikisahkan moksha di desa Menang, Kecamatan Pagu, Kabupaten Kediri. Tempat petilasannya tersebut dikeramatkan oleh penduduk setempat dan masih ramai dikunjungi sampai sekarang.

Prabu Jayabaya adalah tokoh yang identik dengan ramalan masa depan Nusantara. Terdapat beberapa naskah yang berisi “Ramalan Joyoboyo”, antara lain Serat Jayabaya Musarar, Serat Pranitiwakya, dan lain sebagainya.

Dikisahkan dalam Serat Jayabaya Musarar, pada suatu hari Jayabaya berguru pada seorang ulama bernama Maolana Ngali Samsujen. Dari ulama tersebut, Jayabaya mendapat gambaran tentang keadaan Pulau Jawa sejak zaman diisi oleh Aji Saka sampai datangnya hari Kiamat.

Dari nama guru Jayabaya di atas dapat diketahui kalau naskah serat tersebut ditulis pada zaman berkembangnya Islam di Pulau Jawa. Tidak diketahui dengan pasti siapa penulis ramalan-ramalan Jayabaya.

Sudah menjadi kebiasaan masyarakat saat itu untuk mematuhi ucapan tokoh besar. Maka, si penulis naskah pun mengatakan kalau ramalannya adalah ucapan langsung Prabu Jayabaya, seorang raja besar dari Kadiri.

Tokoh pujangga besar yang juga ahli ramalan dari Surakarta bernama Ranggawarsita sering disebut sebagai penulis naskah-naskah Ramalan Jayabaya. Akan tetapi, Ranggawarsita biasa menyisipkan namanya dalam naskah-naskah tulisannya, sedangkan naskah-naskah Ramalan Jayabaya pada umumnya bersifat anonim.

Jayabaya adalah sejarah atau legenda cerita rakyat ?

Nama Jayabaya sangat populer bukan hanya dikalangan orang tradisional Jawa, tetapi juga bagi orang Indonesia umumnya, itu semua dikarenakan adanya ramalan kuno yang disebut Jangka Jayabaya, yang ramalannya seputar kemerdekaan Indonesia 1945 – terbukti kebenaranya.

Indonesia merdeka didahului dengan masuknya tentara Jepang selama 3,5 tahun dengan mengusir kolonialis Belanda yang telah bercokol lebih dari 3.5 abad dinegeri ini. Dengan tepat pula meramalkan siapa Ratu, maksudnya Pemimpin , Presiden pertama R.I dan bagaimana perjalanan perjuangannya.

Isi ramalan Jayabaya adalah :

  1. Ramalan tentang perjalanan negara di Nusantara/Indonesia.
  2. Sikap ratu/pemimpin yang baik yang seharusnya dilakukan dan sikap jelek yang pantang dilakukan.
  3. Contoh perilaku ratu/pemimpin yang bisa jadi panutan.
  4. Sikap pamong/priyayi/birokrat dan tingkah laku manusia dimasyarakat pada saat tertentu.
  5. Gejolak alam, yaitu berbagai bencana alam termasuk wabah dan penyakit, perubahan iklim dan geologis/geografis. termasuk jebolnya Lapindo ( tambak segaran kedua )
  6. Watak dan tindakan manusia yang mempengaruhi kehidupan secara umum, keadaan negara dan perilaku alam.

Esensi pralambang Jayabaya mengandung nasehat yang bijak, bagaimana manusia bisa hidup selamat sejahtera dengan berkah Tuhan. Tentu harus punya kesadaran yang tinggi, selalu berbuat baik terhadap sesama manusia, mahluk, bumi, alam dan menyadari kodratnya sebagai titah dari Sang Pencipta.

Dengan berbudi luhur, manusia akan mengalami kehidupan di jaman Kalasuba, yang serba baik,enak, makmur, tetapi kalau masih saja melanggar norma-norma baku kehidupan seperti moralitas, tata susila , maka masyarakat dan negeri ini akan berada pada jaman Kalabendu, yang serba nista, terpuruk, tidak karuan.

Watak mulia Jayabaya

Semua pihak berpendapat bahwa Prabu Jayabaya sangatlah bijak, kuat tirakatnya dalam mengemban tugas negara. Untuk memecahkan persoalan negara yang pelik, Sang Prabu disertai oleh Permaisuri, Ratu Pagedhongan ( sering di sebut-sebut dalam bacaan mantra-mantra Jendra), disertai pula oleh beberapa menteri dan punggawanya yang terkait, melakukan perenungan/ngelelimbang di Padepokan Mamenang, memohon petunjuk Gusti, Tuhan.

Perenungan/ngelelimbang bisa berlangsung beberapa hari, minggu, bisa juga sebulan bahkan tahun, ini di lakukan demi mendapatkan jawaban/petunjuk dari Dewata Agung, mengenai langkah yang harus dilakukan demi kebaikan kawula dan negara.

Selama masa perenungan/ngelelimbang di Mamenang, Raja dan Ratu hanya menyantap sedikit kencur, kunyit dan temulawak (tiga buah sebesar jari telunjuk) dan minum secangkir air putih segar yang langsung diambil dari mata air, sehari cukup 2 atau 3 kali.

Sedangkan para menteri hanya menyantap semangkok bubur jagung dan secangkir air putih setiap waktu makan. Dan setelah mendapatkan jawaban/solusi , Raja dan rombongan kembali ke istana di Kediri.

Sabdo Pandito Ratu

Di istana diadakan Pasewakan Agung , rapat kerajaan yang dipimpin raja, dikesempatan tersebut raja mengumumkan kebijakan yang diambil kerajaan dan yang mesti dijalankan dan ditaati seluruh pejabat dan kawula.

Apa yang diputuskan dan telah diucapkan oleh raja didepan rapat itu, disebut Sabdo Pandito Ratu atau Sabdo Brahmono Rojo, harus diterima dan dilaksanakan oleh semua pihak termasuk oleh raja sendiri. Jadi, seorang raja/pemimpin itu harus memenuhi janjinya dan apa yang diucapkan harus ditepati, tidak boleh mencla-mencle , cedera janji.

Ini adalah salah satu falsafah kepemimpinan Kejawen yang sudah dikenal sejak dari masa lampau. Rahayu...!

Perselisihan dengan Jenggala....

Sejak tahun 1135 Masehi, yang menduduki tahta kerajaan Panjalu ialah Shri Aji Jayabaya, yang bergelar Shri Maharaja Shri Warmeshwara Madhusudanamataranindhitta Suhrtsingha Paramakrama Digjayatunggadewanama Jayabhayalancana. Pada waktu peng-hadapan di hari Kamis, Shri baginda duduk di atas singgasana bersama dengan prameswari Dyah Hayu Sarameshwari.

Nampak telah menghadap Shri baginda .ialah putra, mahkota sang Maha Mantri Sarweswara yang duduk berdampingan dengan patih Dyah Suksara. Mereka bersama-sama membahas kesejahteraan rakyat.

Belum selesai Shri baginda bersabda, perbincangan pun terganggu oleh keributan di luar sitinggil, yang ternyata adalah datangnya putri sulung Shri baginda, prameswari raja Janggala, yang bernama Dyah Pramesthi. Sang putri menghadap ayahanda baginda sambil menangis tersedu-sedu.

Betapa terkejutnya Shri baginda menerima kedatangan putri sulungnya, pulang ke Kadhiri tanpa pengawal dalam keadaan yang lemah lunglai lusuh membiaskan kesusahan yang sangat mendalam, sebab diusir oleh suaminya dituduh sebagai mata-mata dari Panjalu.

Serasa ditendang dada Shri Jayabaya mendengar laporan sang putri sulung. Sehingga keluarlah perintahnya yang sangat mahal, untuk mempersiapkan perang melawan Janggala Alkisah peijalanan prajurit Panjalu yang meninggalkan gerbang kota, menum­buhkan rasa bangga bagi masyarakat pedesaan yang dilaluinya. Suara tambur dan bendera perang yang bersulam emas bergambarkan singa berbadan manusia, menggetarkan hati siapapun yang melihatnya.

Di praja Janggala, Shri Narpati Darmatungga telah mendengar bahwa mertuanya tidak menerimakan perlakuannya terhadap Dyah Pramesthi, maka segeralah Shri Darmatungga mempersiapkan pasukan untuk menghadapi ‘singa’ dari Panjalu.

Pertempuran dahsyat pun tak terhin­darkan di bulak Hantang. Kedua pasukan telah bermandikan keringat dibakar matahari yang sedang bertengger di puncak langit. Debu ber­gelung-gelung menyelimuti medan pertem­puran, menempel lekat di tubuh para prajurit yang bersimbah darah.’Gelung rambutterurai awut-awutan, yang nampak bukan lagi manusia yang beradab melainkan jin setan janggitan yang gentayangan mencari mangsa.

Shri Aji Jayabaya benar-benar seorang maha jurit yang pantas disebut sebagai titisan Wishnu. Meloncat menyerang barisan lawan, bagai harimau kelaparan menyergap, mang­sanya. Barisan Janggala hancur berantakan diteijang oleh sang ‘singa’ Jayabaya. Bangkai musuh pun berserakan bagai glagah yang diamukgajah.

Pada akhirnya, kedua narpati yang sedang bertikai itu pun telah berhadaphadapan, antara mertua dan menantu, masing-masing menempatkan diri sebagai senopati agung. Keduanya telah siap untuk berperang tanding. Ternyatalah Shri Aji Darmatungga bukan tandingan Shri Aji Jayabaya. Dalam pertarungan yang singkat tangan Shri Jayabaya sempat menyentuh dada Shri Darmatungga, menimbulkan suara gemeretak, dadanya pecah Shri Darmatungga gugur di medan laga.

Pasukan Panjalu pun bersorak gegap gempita, menyaksikan junjungannya unggul dalam perang tanding. Janggala telah takluk dan sepenuhnya dikuasai oleh Panjalu.

Shri Jayabaya dengan pasukannya segera pulang ke Panjalu, di gerbang kota mereka dijemput oleh para kawula yang mengelu elukan para pahlawannya. Untuk memperingati kemenangan yang telah diperoleh, maka sejak saat itu kota Dahana pura juga disebut Pamenang.

Dalam kesempatan itu pula Shri Jayabaya berkenan memanggil Mpu Sedah, untuk diperintahkan menulis sejarah perang saudara antara raja Janggala dengan Panjalu dalam bentuk gubahan kesusasteraan yang berjudul Baratayuda.

Memenuhi titah baginda, segeralah Mpu Sedah pamit pulang ke Wukir Padang, memusatkan fikiran untuk mulai menggubah kesusasteraan Baratayuda.

Setelah beberapa lama kemudian, dalam rangka baginda berkeliling ke desa-desa, maka singgahlah Shri baginda ke padepokan Wukir Padang, untuk menjenguk hasil kerja Mpu Sedah. Dalam kesempatan itu Mpu Sedah dengan jelas menyampaikan cerita Baratayuda yang sebagian telah diselesaikannya.

Pada bagian awalnya, nampak Shri baginda sangat ‘ berkenan di hati. Namun demikian, setelah sampai pada kisah Prabu Salya dengan dewi Pujawati, serta merta Shri baginda murka. Mpu Sedah dituduh telah mencemooh dan menyinggung perkawinan Shri Jayabaya dengan prameswari Retnayu Sarameshwari, putri maha pendeta Mpungku ‘ Naiyayikadarsana.

keris pusaka, bagai didorong oleh kekuatan yang tak kasat mata bagai kilat keris itu pun menyambar menghujam dada Mpu Sedah tembus belikat. Mpu Sedah menjerit roboh seketika. Geger di Wukir Padang, para cantrik berlarian menyingkir takut pada Shri baginda yang sedang murka. Mayat Mpu Sedah segera disempurnakan melalui upacara sesuai dengan tuntunan agama. Shri baginda pun pulang ke Pamenang.

Sesampainya di istana, segera Shri Baginda memanggil Mpu Panuluh untuk menyelesaikan cerita Baratayuda yang belum selesai. Mpu Panuluh menyatakan kesediaannya.

Nampaklah bahwa Shri baginda sangatlah menyesal telah membunuh Mpu Sedah, oleh sebab itu untuk memulihkan rasa prihatin, Shri baginda berkenan mengangkat menantu cucu Mpu Sedah anak Ajar Subrata yang bernama Endang Sulastri untuk dinikahkan dengan putra baginda satria di Pakanjunan yang bernama Jaya Hamisena.

Tak terlukiskan megahnya upacara pernikahan antara Endang Sulastri dengan Jaya Hamisena. Konon, Mpu Panuluh telah berhasil menyelesaikan tulisan Baratayuda dan menghaturkannya kepada Shri baginda.

Puas hati Shri baginda menerima sastra Baratayuda, hal tersebut tercatat dalam sandi sastra yang berbunyi SANGA KUDA SUDDA CANDRAMA (1079 Saka = 1157 Masehi)Selamat sejahtera Shri Jayabaya bertahta sampai dengan tahun 1157 Masehi.

Cerita ini terangkum dalam untaian tembang, MIJIL, SINOM, MASKUMAMBANG dan PANGKUR.

[LENGKAP] Sejarah WALI SONGO

Wali Songo

Para wali songo dalam menanamkan pengaruh Islam di Jawa berawal dari masyarakat di daerah pesisir pantai. Karena pada waktu itu, satu-satunya jalur perdagangan yang paling ramai adalah melalui jalur laut. Baru kemudian merambah ke daerah perkotaan.

Sehingga tidak lama kemudian berdirilah kerajaan-kerajaan Islam di pulau Jawa yang mulai terlihat pengaruh Islam terutama dalam penggunaan gelar sultan dan panatagama. Dengan demikian, dapat diambil kesimpulan bahwa perkembangan agama Islam di pulau Jawa merupakan jerih payah para Wali Songo. Untuk lebih jelasnya, berikut ini kami merangkumnya sejarah singkatnya Wali Songo.

Sejarah Singkat Wali Songo

Masuknya agama Islam di pulau Jawa, pada mulanya dibawa oleh para pedagang yang berasal dari Malaka. Namun, penyebarannya dilakukan oleh para wali. Wali adalah penyiar agama Islam di Jawa.

Dengan demikian, perkembangan Islam di pulau Jawa tidak lepas dari peranan para wali. Jumlah wali yang terkenal ada sembilan, yang dalam bahasa Jawa dikenal dengan sebutan songo, sehingga jadilah sebutan Wali Songo. Adapun para Wali Songo tersebut adalah:

1. Sunan Gresik (Maulana Malik Ibrahim / Syekh Maulana Magribi)

Pada mulanya Sunan Gresik merupakan salah satu ahli dakwah yang dikirim oleh Sultan Zainal Abidin dari kerajaan Samudra Pasai untuk menyebarkan pengaruh Islam ke pulau Jawa dan Sulawesi bersama dengan Maulana Ishak.

Setelah lama di pulau Jawa, Sunan Gresik juga dikenal dengan panggilan Maulana magribi atau Syekh Magribi karena berasal dari wilayah Magribi, Afrika Utara. Dan ada juga yang menyebutnya Syekh Jumadil Kubra.

Kedatangan Sunan Gresik di Jawa tercatat sebagai orang Islam pertama yang masuk ke Jawa. Oleh karena itu, kedatangannya dianggap sebagai permulaan masuk Islam di pulau Jawa.

Dalam menyiarkan ajaran Islam, beliau menerapkan metode dakwah yang tepat untuk menarik simpati warga masyarakat terhadap agama Islam. Beliau wafat pada tanggal 12 Rabiul Awwal 882 H atau 8 April 1419 M dan di makamkan di pekuburan Wetan Gresik.

2. Sunan Ampel (Raden Rahmat)

Sunan Ampel lahir di Campa, Aceh pada tahun 1401 M dengan nama aslinya Raden Rahmat. Ia adalah putra Maulana Malik Ibrahim. Sunan ampel memulai aktivitasnya dengan mendirikan Pesantren Ampel Denta sehingga ia juga dikenal sebagai pembina pondok di Jawa Timur.

Di pesantren tersebut, ia mendidik dan membimbing para pemuda Islam untuk menjadi da’i. Diantaranya ada Raden Paku, Raden Patah, Raden Makhdum Ibrahim, Maulana Ishak dan Syarifudin.

Sunan Ampel adalah orang yang mengangkat Raden Patah sebagai sultan pertama Demak yang mempunyai jasa paling besar dalam meletakkan peran politik umat Islam di Nusantara. Sunan Ampel wafat di Surabaya pada tahun 1481 M dan di makamkan di Ampel.

3. Sunan Bonang (Raden Maulana Makhdum Ibrahim)

Lahir di Surabaya tahun 1465 M. Ia adalah putranya Raden Rahmat, cucunya Sunan Gresik, dan sudara sepupu Sunan Kalijaga. Sunan Bonang dianggap sebagai “pencipta gending pertama”.

Dalam menyebarkan Islam ia selalu menyesuaikan diri dengan kebudayaan masyarakat Jawa yang sangat menggemari wayang dan musik gamelan. Beliau memusatkan dakwahnya di Tuban.

Dalam aktivitas dakwahnya, ia mengganti nama-nama dewa dengan nama-nama malaikat. Sunan Bonang memberikan pendidikan Islam secara mendalam kepada Raden Patah, putra raja Majapahit Prabu Brawijaya V, yang kemudian menjadi Sultan Demak Pertama. Sunan Bonang wafat di Tuban tahun 1525 M.

4. Sunan Giri (Raden Paku/ Prabu Satmata/ Sultan Abdul Fakih)

Lahir pada pertengahan abad ke-15 dengan nama asli Raden Paku. Ia adalah putra Maulana Ishak dan dikenal dengan panggilan Raden Ainul Yaqin. Sunan Giri memulai aktivitas dakwahnya di daerah Giri dan sekitarnya dengan mendirikan sebuah pesantren dengan nama “Pesantren Sunan Giri”. Ia mengirim da’i terdidik ke berbagai daerah di luar pulau Jawa, seperti di Madura, Ternate, Tedore dan Kangean.

Tak hanya itu ia juga terkenal sebagai pendidik yang berjiwa demokratis. Ia mendidik anak-anak dengan berbagai permainan yang berjiwa agama seperti jelungan, jor gula, cublak-cublak, suweng, iler-iler yang masih dikenang hingga saat ini. Sunan Giri wafat dan dimakamkan di Giri, Gresik pada tahun 1506 M.

5. Sunan Drajat (Raden Kosim/ Syarifuddin Masih Munat/ Sunan Sedayu)

Lahir di Ampel, Surabaya pada tahun 1407 dengan nama asli Raden Qosim atau Syarifuddin. Ia merupakan putra Sunan Ampel. Pada waktu para wali memutuskan untuk mengadakan pendekatan cultural pada masyarakat Jawa dalam menyiarkan Islam.

Sunan Drajat juga tidak ketinggalan untuk menciptakan tembang Jawa yang sampai saat ini masih digemari masyarakat, yaitu tembang pangkur. Hal yang paling menonjol dalam dakwahnya Sunan Drajat ialah perhatiannya yang serius pada masalah-masalah sosial. 

Dakwahnya selalu berorientasi pada kegotong-royongan. Sunan Drajat wafat di Sedayu, Gresik pada pertengahan abad ke-16 M.

6. Sunan Kalijaga (Raden Mas Syahid/Syekh Malaya)

Dilahirkan pada akhir abad ke-14 M dengan nama Raden Mas Syahid. Ayahnya bernama Raden Sahur Tumenggung Wilwatikta yang menjadi Bupati Tuban. Dan ibunya bernama Nawang Rum.

Karena sistem dakwahnya yang akurat dan intelek, para bangsawan dan cendikiawan banyak yang bersimpati kepadanya. Sunan Kalijaga sangat berjasa dalam perkembangan wayang purwa atau wayang kulit yang bercorak Islam seperti saat ini.

Sunan Kalijaga mengarang aneka cerita wayang bernapaskan Islam terutama mengenai etika. Beliau juga berjasa dalam pengembangan seni suara, seni ukir, seni pahat, dan kesusatraan.

7. Sunan Kudus (Ja’far Sadiq/ Raden Undung)

Sunan Kudus menyiarkan agama Islam di daerah Kudus dan sekitarnya. Ia memiliki keahlian khusus dalam ilmu fiqih, ushul fiqh, tauhid, tafsir, hadits dan logika. Oleh karenanya, diantara walisongo yang lain, ia mendapat julukan waliyyul’ilmi atau orang yang kuat ilmunya. Beliau juga melaksanakan dakwah denganpendekatan kultural.

8. Sunan Muria (Raden Umar Said)

Beliau adalah putra Sunan Kalijaga. Sunan Muria memusatkan aktivitas dakwahnya di gunung Muria yang terletak 18 km sebelah utara kota Kudus. Ia menjadikan tempat-tempat terpencil sebagai pusat dakwahnya.

Ia lebih suka menyendiri dan tinggal di desa serta bergaul dengan rakyat biasa. Beliau mengadakan kursus-kursus untuk kaum nelayan, pedagang dan rakyat biasa untuk mendalami ilmu agama Islam.

9. Sunan Gunungjati (Syarif Hidayatullah)

Lahir di Mekkah tahun 1448 M. Ia adalah cucu Raja Pajajaran, Prabu Siliwangi. Ia mengembangkan ajaran Islam di Cirebon, Majalengka, Kawali, Kuningan, Sunda Kelapa, Dan Banten.

Sunan Gunungjati sangat berjasa dalam memajukan kerajaan Demak, khususnya dalam pelantikan Sultan Trenggono sebagai raja Demak ketiga hingga kerajaan Demak mencapai puncak kejayaannya sebagai kerajaan Islam di pulau Jawa.

[LENGKAP] Cerita Tangkuban Perahu / Sangkuriang

Cerita Tangkuban Perahu / Sangkuriang

Pada suatu waktu di Jawa barat, Indonesia tinggal seorang raja yang bijaksana yang memiliki seorang putri cantik. Namanya Dayang Sumbi. Dia suka menenun sangat banyak.

Setelah dia menenun kain ketika salah satu alat nya jatuh ke tanah. Dia sangat lelah pada saat itu sehingga dia terlalu malas untuk mengambilnya. Kemudian dia hanya berteriak dengan keras.

"Siapa di sana? Ambilkan alat saya. Saya akan memberikan kado istimewa. Jika Anda perempuan, saya akan menganggap Anda sebagai adikku. Jika Anda adalah laki-laki, aku akan menikahimu”.

Tiba-tiba seekor anjing jantan, namanya adalah Tumang, datang. Dia membawakan alat jatuh. Dayang Sumbi sangat terkejut. Dia menyesali kata-katanya, tapi dia tidak bisa menyangkalnya. Jadi dia harus menikahi Tumang dan meninggalkan ayahnya.

Kemudian mereka tinggal di sebuah desa kecil. Beberapa bulan kemudian mereka memiliki seorang putra. Namanya Sangkuriang. Dia adalah seorang anak laki-laki tampan dan sehat.

Sangkuriang sangat suka berburu. Dia sering pergi berburu ke hutan menggunakan panahnya. Ketika ia pergi berburu Tumang selalu bersamanya. Di masa lalu ada banyak rusa di Jawa sehingga Sangkuriang sering diburu untuk rusa.

Suatu hari Dayang Sumbi ingin memiliki hati rusa sehingga dia meminta Sangkuriang untuk berburu rusa. Kemudian Sangkuriang pergi ke hutan dengan panah dan anjing yang setia Tumang. Tapi setelah beberapa hari di hutan Sangkuriang tidak bisa menemukan rusa apapun.

Mereka semua menghilang. Sangkuriang lelah dan putus asa. Dia tidak ingin mengecewakan ibunya sehingga ia membunuh Tumang. Dia tidak tahu bahwa Tumang adalah ayahnya. Di rumah ia memberi hati Tumang untuk ibunya.

Namun Dayang Sumbi tahu bahwa itu adalah hati Tumang itu. Dia sangat marah bahwa dia tidak bisa mengendalikan emosinya. Dia memukul Sangkuriang di kepalanya. Sangkuriang terluka. Ada bekas luka di kepalanya. Dia juga ditolak anaknya. Sangkuriang meninggalkan ibunya dalam kesedihan.

Bertahun-tahun berlalu dan Sangkuriang menjadi seorang pemuda yang kuat. Dia berjalan di mana-mana. Suatu hari ia tiba di desanya sendiri, tapi dia tidak menyadari hal itu.

Di sana ia bertemu Dayang Sumbi. Pada saat Dayang Sumbi diberi keindahan abadi oleh Allah sehingga dia tetap muda selamanya. Keduanya tidak saling mengenal. Jadi mereka jatuh cinta dan kemudian mereka memutuskan untuk menikah.

Tapi kemudian diakui Dayang Sumbi mengetahui bekas luka di kepala Sangkuriang. Dia tahu bahwa Sangkuriang adalah putranya. Itu tidak mungkin bagi mereka untuk menikah. Dia mengatakan dia tapi dia tidak percaya padanya. Dia berharap bahwa mereka segera menikah.

Jadi Dayang Sumbi memberikan kondisi yang sangat sulit. Dia ingin Sangkuriang untuk membangun sebuah danau dan perahu dalam satu malam! Dia bilang dia membutuhkan itu untuk bulan madu.

Sangkuriang setuju. Dengan bantuan jin dan roh Sangkuriang mencoba untuk membangun danau. Pada tengah malam ia selesai dengan membangun bendungan di sungai Citarum.

Lalu ia mulai membuat perahu. Itu hampir fajar ketika ia hampir selesai. Sementara itu Dayang Sumbi terus mengawasi. Dia sangat khawatir ketika dia tahu ini. Jadi dia membuat lampu di timur.

Kemudian roh berpikir bahwa itu sudah fajar. Sudah waktunya bagi mereka untuk pergi. Mereka meninggalkan Sangkuriang sendiri. Tanpa bantuan mereka dia tidak bisa menyelesaikan perahu.

Sangkuriang sangat marah. Dia menendang perahu. Kemudian kapal terbalik dan menjadi Gunung Tangkuban Perahu. Ini berarti perahu terbalik. Dari jauh terlihat seperti perahu terbalik.

[LENGKAP] SEJARAH PERANG JAGARAGA BALI (1846 - 1849 )

PERANG JAGARAGA (1846 - 1849 )

Pecahnya perang Jagaraga di Bali, dilatarbelakangi oleh berbagai hal, di antaranya:

  1. Belanda menolak hukum “Tawan Karang” suatu hukum di mana raja Bali berhak mengklaim kapal asing yang kandas di wilayah perairannya.
  2. Belanda menuntut kerajaan-kerajaan di Bali mengakui kekuasaan Belanda di Bali.
  3. Belanda minta agar kerajaan-kerajaan di Bali melindungi perdagangannya.

Tokoh-tokoh Bali yang ikut ambil bagian dalam perang Jagaraga. Tokoh-tokoh tersebut di antaranya: Raja Buleleng, Gusti Gde Jelantik (Patih Buleleng), Raja Karangasem.

Perang Jagaraga berawal tahun 1846, pasukan Belanda menyerbu Buleleng. Meskipun dibantu Karangasem, Istana Buleleng dapat diduduki Belanda. Raja Buleleng menyingkir ke Jagaraga. Tahun 1848, Belanda mengirimkan pasukan di bawah pimpinan Mayor Jenderal Van der Wijk.

Kemudian memaksa mengadakan perjanjian dengan kerajaan Buleleng dan Karangasem, supaya mengakui kekuasaan Belanda dan menghapus hukum Tawan Karang. Karena perjanjian tidak dihiraukan oleh Kerajaan Buleleng dan Karangasem, pasukan Belanda menyerbu benteng Jagaraga, namun berhasil digagalkan.

Tahun 1849, Belanda melancarkan serangan besar-besaran di bawah pimpinan Jenderal Michiels. Setelah Jagaraga dapat direbut, serangan diarahkan ke Klungkung, Karangasem, dan Gianyar.

Dengan semangat perang sampai titik darah penghabisan, rakyat Bali mempersulit gerak pasukan Belanda. Itulah yang disebut semangat puputan. Maka perang itu terkadang disebut perang puputan. Baru pada tahun 1906, Belanda dapat menanamkan kekuasaannya di Bali.

PENGERTIAN PATRIOTISME DAN KEBANGKITAN NASIONAL

Pengertian Patriotisme

Patriotisme adalah sikap dan perilaku seseorang yang dilakukan dengan penuh semangat rela berkorban untuk kemerdekaan, kemajuan, kejayaan dan kemakmuran bangsa. Seseorang yang memiliki sikap dan perilaku patriotik, ditandai oleh adanya:

  1. rasa cinta pada tanah air,
  2. rela berkorban untuk kepentingan bangsa dan negara,
  3. menempatkan persatuan, kesatuan, serta keselamatan bangsa dan negara di atas kepentingan pribadi dan golongan,
  4. berjiwa pembaharu,
  5. tidak mudah menyerah.

Konsep patriotik tidak selalu terjadi dalam lingkup bangsa dan negara, tetapi juga dalam lingkup sekolah dan desa atau kampung. Kita mungkin bisa menemukan bagaimana seorang siswa atau masyarakat yang lainnya berbuat sesuatu yang mempunyai arti sangat besar bagi sekolah atau bagi lingkungan desa atau kampung.

Nasionalisme

Kebangkitan Nasional

Terwujudnya Indonesia sebagai Negara Kesatuan Republik Indonesia merupakan suatu proses sejarah dan berlangsung dalam waktu yang relatif lama.

Kesadaran dan kemauan untuk membentuk dan menjadi kelompok bangsa dan negara Indonesia berlangsung melalui proses yang berliku-liku serta membawa korban bukan hanya harta tetapi nyawa yang tidak bisa dihitung jumlahnya. Belum lagi pengorbanan dalam bentuk psikis yang dialami oleh rakyat Indonesia.

Proses pembentukan bangsa dan negara Indonesia bukan karena didasarkan faktor sosial politik saja, tetapi juga didasarkan pada aspek psikologis rakyat Indonesia, yaitu adanya perasaan yang sama, nasib yang sama serta cita-cita yang sama dalam upaya meningkatkan kesejahteraan hidup bersama.

[LENGKAP] Pembahasan Masa Kolonial Perancis di Indonesia

Pembahasan Masa Kolonial Perancis di Indonesia

Masa kolonial Perancis di Hindia Belanda (kini Indonesia) dilatarbelakangi oleh jatuhnya kekuasaan Kerajaan Belanda di Eropa oleh Kekaisaran Perancis. Napoleon yang berhasil menguasai Kerajaan Belanda menunjuk keponakannya Lodewijk Napoleon untuk menjadi Raja Belanda yang kemudia diganti menjadi Republik Bataaf.

Prancis dalam usahanya mengekspansi seluruh Eropa memanfaatkan koloni-koloni negara-negara Eropa yang telah ditaklukan. Hal ini dilakukan karena Perancis membutuhkan SDM untuk membiayai Perang Napoelon yang tengah masifnya.

Dan jejak kolonial Prancis di Nusantara yang memerintah antara tahun 1806 dan 1811. Setelah itu, Inggris (Britania) mengambil alih kekuasaan dari tahun 1811 sampai 1815. Inggris kemudian mengembalikan kekuasaan kepada Belanda pada tahun 1815.

Seperti ditulis dalam Wikipedia, jatuhnya Belanda ke tangan Imperium Prancis dan pembubaran Perusahaan Hindia Timur Belanda menyebabkan beberapa perubahan besar dalam pemerintahan kolonial Eropa di Hindia Belanda, ketika salah satu babak peperangan era Napoleon juga terjadi di Jawa. 

Periode ini, yang berlangsung selama hampir satu dekade, menyaksikan perubahan yang luar biasa di Jawa, karena proyek infrastruktur dan pertahanan yang agresif terjadi, diikuti oleh pertempuran, reformasi, dan perubahan besar pemerintahan di koloni tersebut.

Pada 1800, Perusahaan Hindia Timur Belanda ( Vereenigde Oost-Indische Compagnie/VOC)) dinyatakan bangkrut dan dinasionalisasi oleh pemerintah Belanda. Akibatnya, aset-asetnya yang meliputi pelabuhan laut, gudang, benteng, permukiman, tanah, dan perkebunan di Hindia Timur dinasionalisasi sebagai koloni Belanda, yakni Hindia Belanda.

Daendeles

Koloni terssebut berpusat di Batavia (kini Jakarta), Belanda menguasai sebagian besar Jawa (kecuali wilayah pedalaman negeri Vorstenlanden Mataram dan Banten), menaklukkan pesisir Sumatra Barat, menggulingkan bekas koloni Portugis di Malaka, Maluku, Sulawesi Selatan dan Utara, juga di Timor Barat. Di antara penguasaan Belanda ini, Jawa adalah yang paling penting, karena produksi tanaman keras dan perkebunan yang dikuasai Belanda berada di sana.

Di sisi lain dunia, Eropa hancur karena Peperangan era Napoleon. Sebuah penaklukan dan revolusi yang menggeser politik, hubungan, dan dinamika di antara kekaisaran dan negara Eropa, yang berdampak pada koloni mereka di Timur Jauh.

Belanda di bawah Napoleon Bonaparte pada 1806, mengawasi Republik Batavia menjadi Persemakmuran Batavia dan kemudian dibubarkan dan digantikan oleh Kerajaan Hollandia, sebuah kerajaan boneka Prancis yang diperintah oleh saudara laki-laki ketiga Napoleon, Louis Bonaparte (Lodewijk Napoleon). Akibatnya Hindia Timur selama masa tersebut diperlakukan sebagai koloni Prancis proksi, diperintah melalui perantara Belanda.

Dandels dan Kekuasaan Prancis di Jawa 1806-1811.

Jalan Raya Pos Jawa, dibangun atas perintah Daendels.

Pada 1806, Raja Lodewijk Napoleon dari Belanda mengirim salah satu jenderalnya, Herman William Daendels menjabat sebagai gubernur jenderal Hindia Timur di Jawa. Daendels dikirim untuk memperkuat pertahanan Jawa terhadap kemungkinan invasi Inggris yang masuk. 

Dia tiba di kota Batavia (kini Jakarta) pada 5 Januari 1808 dan menggantikan mantan Gubernur Jenderal Albertus Wiese. Dia membangun pasukan baru, membangun jalan-jalan baru di Jawa, dan memperbaiki administrasi pemerintahan internal pulau ini.

Pemerintahan Daendels adalah keras dan darurat militer, karena koloni tersebut dipersiapkan menghadapi ancaman Britania. Dia mendirikan rumah sakit baru dan barak militer, pabrik senjata baru di Surabaya dan Semarang, dan sebuah kolese militer baru di Batavia. 

Dia menghancurkan Kastel di Batavia dan menggantikannya dengan benteng baru di Meester Cornelis (Jatinegaa), dan membangun Fort Lodewijk di Surabaya.

Namun, prestasinya yang paling terkenal adalah pembangunan Jalan Raya Pos (bahasa Belanda: Grote Postweg) sepanjang pantai utara Jawa dari Anyer hingga Panarukan. 

Jalan Daendeles

Jalan ini kini berfungsi sebagai jalan utama di Jawa dinamakan Jalur Pantura. Jalan sepanjang ribuan kilometer itu selesai hanya dalam waktu satu tahun, di mana ribuan tenaga kerja paksa orang Jawa tewas.

Dan bila ada klaim bahwa jalan sepanjang Pantura dibangun secara total oleh Daendels juga diragukan. Sebab, sebab kala itu jalan lama pun sebagian sudah ada. 

Jadi Daendels hanya memperlebar, menyambung dan mengeraskan jalur jalan yang sudah ada. Ini karena jalan di kawasan pantura itu masih sederahana dan terserak-serak dalam berbagai penggal jalur.

[LENGKAP] Bangkitnya Nasionalisme Modern

Nasionalisme Modern

Bangkitnya Nasionalisme Modern dimulai sejak Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928 dan membawa dampak luas pada masyarakat untuk menumbuhkan rasa nasionalisme yang kuat.

Sebagai seorang terpelajar Sukarno, muncul sebagai seorang pemuda cerdas yang memimpin pergerakan nasional baru. Ia mendirikan partai dengan nama Partai Nasional Indonesia (4 Juli 1927).

Sukarno juga turut serta memprakarsai berdirinya Permufakatan Perhimpunan-Perhimpunan Politik Kebangsaan Indonesia (PPPKI) pada 1927. Pada 28 Oktober 1928 organisasi ini ikut menyatakan ikrar tentang tanah air yang satu, berbangsa satu, dan berbahasa satu, yaitu Indonesia. Pernyataan Sumpah Pemuda itu membawa dampak luas pada masyarakat untuk menumbuhkan nasionalisme yang kuat.

Pada saat itu semangat untuk memerangi imperialisme dan kolonialis begitu kuat dalam pengikut-pengikut PKI. Pengikut Tan Malaka masih terus dapat mempertahankan kerangka struktur yang biasanya dilakukan melalui kontak pribadi di desa-desa atau bekerjasama dengan organisasi-organisasi agama lainnya.

Sementara itu Partai Nasional Indonesia (PNI) terus mendapat tekanan dari Belanda. Sukarno sebagai pimpinan PNI karena aksi-aksi yang dengan radikal terhadap pemerintah Belanda, akhirnya ditangkap dan diadili. 

Menjelang vonis pengadilan dijatuhkan, Sukarno sempat mengucapkan pidato pembelaan untuk membakar semangat para pejuang. Pidato pembelaan itulah yang kemudian dibukukan dengan judul: “Indonesia Menggugat”. Putusan pengadilan akhirnya menjatuhkan hukuman kurungan kepada Sukarno.

Ia ditahan di Penjara Sukamiskin selama empat tahun terhitung Desember 1930. Selama Sukarno menjalani masa penahanannya PNI pecah menjadi dua, Partai Indonesia (Pertindo) dan Pendidikan Nasional Indonesia atau PNI Baru. Sukarno masuk dalam Partai Indonesia dan PNI Baru dipimpin oleh Mohammad Hatta dan Sjahrir.

Partai Indonesia pimpinan Sukarno lebih menekankan pada mobilisasi massa, sedangkan Hatta dan Sjahrir lebih menekankan pada organisasi kader yang akan menentang tekanan pemerintah kolonial Belanda dengan keras dan lebih menanamkan pemahaman ide nasionalisme.

Namun demikian kedua strategi politik itu belum mencapai hasil yang maksimal. Akhirnya ketiga tokoh itu ditangkap dan diasingkan oleh Belanda dan ditahan serta diasingkan pada 1933. Kedua organisasi yang didirikan oleh ketiga tokoh itupun dibubarkan oleh pemerintah kolonial.

Selepas dari Penjara Sukamiskin Soekarno kemudian diasingkan ke Ende, Flores, Nusa Tenggara Timur. Sukarno selama empat tahun (1934-1938) diisolasi dijauhkan dari dinamika perjuangan kebangsaan.

Sementara Sukarno dan beberapa tokoh lain ditahan, organisasi pergerakan untuk menentang Belanda terus berjalan. Kelompok yang beraliran Marxis mendirikan Gerakan Rakjat Indonesia (Gerindo) di bawah kepemimpinan Amir Sjarifuddin dan A.K. Gani. Partai ini cenderung menampakkan faham fasisme internasional.

Di Sumatera Timur, PNI, PKI, Permi, dan Partindo pemimpinnya berasal dari organisasi-organisasi radikal dari tahun-tahun sebelumnya. Gerindo sebagai partai yang berpaham marxis lebih menunjukkan sikap anti kolonialisme, anti-Eropa dan antikapitalisme.

Sementara itu Gabungan Politik Indonesia (GAPI) didirikan pada tahun 1939. Tokoh pendiri GAPI adalah Muhammad Husni Thamrin. Gerindo berada dalam satu arah dengan Parindra yang dipimpin oleh Thamrin dan sebelumnya oleh Sutomo. 

Parindra adalah partai politik Indonesia yang paling berpengaruh di Hindia, karena keberhasilannya dalam pemilihan di volksraad. Thamrin kemudian memimpin front Indonesia bersatu di dalam Volksraad yang disebut Fraksi Nasional.

[LENGKAP] Dampak Positif dan Negatif Pendudukan Jepang di Indonesia

Setelah Hindia Belanda menyerah tanpa syarat kepada Jepang di Indonesia, Jepang mulai menanamkan system penjajahan menggantikan pemerintah Hindia Belanda. Lajunya kemenangan pasukan Jepang seperti badai yang mampu menyapu tempat-tempat pertahanan Hindia Belanda.

Dampak Positif dan Negatif Pendudukan Jepang di Indonesia

Namun kemenangan Jepang itu tidak secara fisik saja karena keunggulan militer dan teknologinya, tetapi dibalik itu sebenarnya terdapat dorongan bangsa Indonesia sendiri yang bosan terhadap penjajahan Belanda, apalagi Jepang menggunakan propaganda yang mampu menembus kebencian terhadap kolonialisme pada umunya.

Masa pendudukan Jepang di Indonesia dimulai pada tahun 1942 dan berakhir pada tanggal 17 Agustus 1945 seiring dengan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia oleh Soekarno dan M. Hatta atas nama bangsa Indonesia.

Pada Juli 1942, Soekarno menerima tawaran Jepang untuk mengadakan kampanye publik dan membentuk pemerintahan yang juga dapat memberikan jawaban terhadap kebutuhan militer Jepang. Soekarno, Mohammad Hatta, dan para Kyai didekorasi oleh Kaisar Jepang pada tahun 1943.

Dampak Positif dan Negatif Pendudukan Jepang di Indonesia

Masa Pendudukan Jepang di Indonesia adalah masa yang sangat berpengaruh bagi perkembangan Indonesia, selain itu hampir tidak adanya tantangan yang berarti kepada Belanda sebelumnya.

Dalam masanya yang singkat itu, Jepang membawa dampak yang positif dan juga membawa dampak yang negatif bagi bangsa Indonesia pada umumnya. Pada umumnya kebanyakan beranggapan masa pendudukan Jepang adalah masa-masa yang kelam dan penuh penderitaan.

Akan tetapi tidak semuanya itu benar, ada beberapa kebijakan pemerintah pendudukan Jepang yang memberikan dampak positif, terutama dalam pembentukan nasionalisme Indonesia dan pelatihan militer bagi pemuda Indonesia.

Dampak Positif Pendudukan Jepang

Tidak banyak yang mengetahui tentang dampak positifnya Jepang menduduki Indonesia. Ada pun dampak positif yang dapat dihadirkan antara lain :
  • Diperbolehkannya bahasa Indonesia untuk menjadi bahasa komunikasi nasional dan menyebabkan bahasa Indonesia mengukuhkan diri sebagai bahasa nasional.
  • Jepang mendukung semangat anti-Belanda, sehingga mau tak mau ikut mendukung semangat nasionalisme Indonesia. Antara lain menolak pengaruh-pengaruh Belanda, misalnya perubahan nama Bataviamenjadi Jakarta.
  • Untuk mendapatkan dukungan rakyat Indonesia, Jepang mendekati pemimpin nasional Indonesia seperti Soekarno dengan harapan agar Soekarno mau membantu Jepang memobilisasi rakyat Indonesia. Pengakuan Jepang ini mengukuhkan posisi para pemimpin nasional Indonesia dan memberikan mereka kesempatan memimpin rakyatnya.
  • Dalam bidang ekonomi didirikannya kumyai yaitu koperasi yang bertujuan untuk kepentingan bersama.
  • Mendirikan sekolah-sekolah seperti SD 6 tahun, SMP 3 tahun, dan SLTA
  • Pembentukan strata masyarakat hingga tingkat paling bawah yaitu rukun tetangga (RT) atau Tonarigumi
  • Diperkenalkan suatu sistem baru bagi pertanian yaitu line system(sistem pengaturan bercocok tanam secara efisien) yang bertujuan untuk meningkatkan produksi pangan.
  • Dibentuknya BPUPKI dan PPKI untuk mempersiapkan kemerdekaan Indonesia. Dari sini muncullah ide Pancasila.
  • Jepang dengan terprogram melatih dan mempersenjatai pemuda-pemuda Indonesia demi kepentingan Jepang pada awalnya. Namun oleh pemuda hal ini dijadikan modal untuk berperang yang dikemudian hari digunakan untuk menghadapi kembalinya pemerintah kolonial Belanda.
  • Dalam pendidikan dikenalkannya sistem Nipon-sentris dan diperkenalkannya kegiatan upacara dalam sekolah.

Dampak Negatif Pendudukan Jepang

Selain dampak positifnya tadi diatas, Jepang juga membawa dampak negatif yang luar biasa antara lain :
  • Penghapusan semua organisasi politik dan pranata sosial warisan Hindia Belanda yang sebenarnya banyak diantaranya yang bermanfaat bagi kemajuan ilmu pengetahuan, sosial, ekonomi, dan kesejahteraan warga.
  • Romusha, mobilisasi rakyat Indonesia (terutama warga Jawa) untuk kerja paksa dalam kondisi yang tidak manusiawi.
  • Penghimpunan segala sumber daya seperti sandang, pangan, logam, dan minyak demi kepentingan perang. Akibatnya beras dan berbagai bahan pangan petani dirampas Jepang sehingga banyak rakyat yang menderita kelaparan.
  • Krisis ekonomi yang sangat parah. Hal ini karena dicetaknnya uang pendudukan secara besar-besaran sehingga menyebabkan terjadinya inflasi.
  • Kebijakan self sufficiency(kawasan mandiri) yang menyebabkan terputusnya hubungan ekonomi antar daerah.
  • Kebijakan fasis pemerintah militer Jepang yang menyebar polisi khusus dan intelijen di kalangan rakyat sehingga menimbulkan ketakutan. Pemerintah Jepang bebas melanggar hak asasi manusia dengan menginterogasi, menangkap, bahkan menghukum mati siapa saja yang dicurigai atau dituduh sebagai mata-mata atau anti-Jepang tanpa proses pegadilan.
  • Pembatasan pers sehingga tidak ada pers yang independen, semuanya dibawah pengawasan Jepang.
  • Terjadinya kekacauan situasi dan kondisi keamanan yang parah seperti maraknya perampokan, pemerkosaan dan lain-lain.
  • Pelarangan terhadap buku-buku berbahasa Belanda dan Inggris yang menyebabkan pendidikan yang lebih tinggi terasa mustahil.
  • Banyak guru-guru yang dipekerjakan sebagai pejabat-pejabat pada masa itu yang menyebabkan kemunduran standar pendidikan secara tajam.

Sumber : https://www.selklik.com/2022/03/dampak-positif-dan-negatif-pendudukan.html

Demikian pembahasan kali ini semoga bermanfaat dan menambah pengetahuan kalian, terima kasih sudah mampir. Jika ingin bertanya silahkan komentar dibawah ya..

[LENGKAP] Penjelasan 3 Macam Model Budaya Politik

Budaya politik merupakan pola perilaku suatu masyarakat dalam kehidupan bernegara, penyelenggaraan administrasi negara, politik pemerintahan, hukum, norma kebiasaan yang dihayati oleh seluruh anggota masyarakat setiap harinya. 

Budaya politik juga dapat diartikan sebagai suatu sistem nilai bersama suatu masyarakat yang memiliki kesadaran untuk berpartisipasi dalam pengambilan keputusan kolektif dan penentuan kebijakan publik untuk masyarakat seluruhnya.

3 Macam Model Budaya Politik

Masoed dan Mac Andrews (1986: 42) menyatakan bahwa ada tiga model budaya politik sebagai berikut:

a. Sistem demokratis industrial

Dalam sistem ini jumlah partisipan mencapai 40-60%dari penduduk dewasa. Mereka terdiri atas para aktivis politik dan para peminat politik yang kritis mendiskusikan masalah-masalah kemasyarakatan dan pemerintahan. Selain itu, mereka adalah kelompok-kelompok pendesak yang mengusulkan kebijakan-kebijakan baru untuk melindungi kepentingan khusus mereka.

Sementara itu, jumlah Para aktivis sosial seperti lembaga ISAC termasuk partisipan dalam sistem demokratis industrial yang berbudaya politik subjek kurang lebih 30%, sedangkan parokial kira-kira10%.

b. Sistem politik otoriter

Dalam sistem ini sebagian besar rakyat hanya menjadi subjek yang pasif. Mereka mengakui pemerintah dan tunduk pada hukumnya, tetapi tidak melibatkan diri dalam urusan pemerintahan. Sebagian kecil rakyat lainnya berbudaya politik partisipan dan parokial.

Kelompok partisipan berasal dari mahasiswa dan kaum intelektual, pengusaha, dan tuan tanah. Mereka menentang dan bahkan memprotes sistem politik yang ada. Sementara, kaum parokial yang sedikit sekali kontaknya terhadap sistem politik terdiri dari para petani dan buruh tani yang hidup dan bekerja di perkebunan-perkebunan.

c. Sistem demokratis pra-industrial

Dalam sistem ini, sebagian besar warga negaranya menganut budaya politik parokial. Mereka hidup di pedesaan dan buta huruf. Pengetahuan dan keterlibatan mereka dalam kehidupan politik sangat kecil.

Sementara itu, kelompok partisipan sangat sedikit jumlahnya, biasanya berasal dari kaum terpelajar, usahawan, dantuan tanah. Demikian pula proporsi jumlah pendukung budaya politik subjek juga relatif kecil.

[LENGKAP] Faktor Pendorong Munculnya Nasionalisme di Indonesia

Faktor Pendorong Munculnya Nasionalisme di Indonesia

Munculnya semangat kebangsaan yang ada pada masyarakat Indonesia dipengaruhi oleh faktor dari dalam (intern) dan faktor dari luar (ekstern). Faktor ekstern yang mempengaruhi nasionalisme Indonesia, adalah:

  1. Pengaruh faham-faham modern dari Eropa (liberalisme, humanisme, nasionalisme, komunisme);
  2. Pengaruh gerakan Pan-Islamisme;
  3. Pengaruh pergerakan bangsa terjajah di Asia; dan
  4. Pengaruh kemenangan Jepang atas Rusia.

Sedangkan faktor internal yang mendorong munculnya semangat kebangsaan atau nasionalisme adalah:

  1. Timbulnya kembali golongan pertengahan, kaun terpelajar;
  2. Adanya penderitaan dan kesengsaraan yang dialami oleh seluruh rakyat dalam berbagai bidang kehidupan;
  3. Pengaruh golongan peranakan; dan
  4. Adanya keinginan untuk melepaskan diri dari imperialisme.

Tumbuh dan berkembangnya nasionalisme Indonesia meliputi semua aspek kehidupan berupa semangat untuk memberdayakan ekonomi, pendidikan, politik, sosial, dan budaya yang diwujudkan dalam bentuk perjuangan organisasi pergerakan nasional yang moderat atau radikal, yang mau bekerja sama (kooperatif) maupun tidak bekerja sama (non-kooperatif) dengan pemerintah kolonial Belanda.

[LENGKAP] Pengertian Pergerakan Nasional

Pergerakan Nasional

Pergerakan nasional adalah suatu bentuk perlawanan terhadap kepada kaum penjajah yang dilaksanakan tidak dengan menggunakan kekuatan bersenjata, tetapi menggunakan organisasi yang bergerak di bidang sosial, budaya, ekonomi dan politik. Demikian halnya dengan pergerakan nasional yang terjadi di Indonesia.

Pada awalnya, berdirinya organisasi ini tidak ditujukan untuk perlawanan terhadap kaum penjajah, tetapi organisasi-organisasi tersebut pada dasarnya didirikan dalam upaya meningkatkan kesejahteraan rakyat yang mengalami penderitaan akibat penjajahan, namun pada akhirnya bertujuan untuk mewujudkan kemerdekaan. Hal yang demikian ini pula yang menjadi faktor awal berdirinya berbagai macam organisasi pergerakan nasional di Indonesia.

Pergerakan nasional melawan penjajahan Belanda di Indonesia diawali pada permulaan abad ke-20, dengan berdirinya organisasi Budi Utomo, Sarikat Islam dan berbagai macam organisasi lainnya.

Organisasi-organisasi yang berdiri pada masa itu disebut sebagai organisasi pergerakan nasional, yang mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:

  1. Keanggotaannya tidak didasarkan atas kelompok etnis (suku) tertentu melainkan semua kelompok etnis.
  2. Sebagian besar pemimpin organisasi pergerakan nasional itu berasal dari kalangan terdidik yang memperoleh pendidikan Barat serta kelompok intelektual yang sudah bergaul dengan berbagai bangsa, baik melalui sekolah di dalam negeri, Belanda, maupun yang telah menunaikan ibadah haji.
  3. Organisasi-organisasi pergerakan nasional tersebut memiliki tujuan yang jelas bagi kepentingan seluruh bangsa di bidang sosial, pendidikan, ekonomi, budaya, dan politik.
  4. Organisasi-organisasi pergerakan nasional memiliki paham kebangsaan atau nasionalisme.
Dengan kata lain pergerakan nasional Indonesia adalah suatu bentuk perlawanan bangsa Indonesia terhadap penjajah yang dilaksanakan dengan menggunakan organisasi, terjadi pada awal abad ke-20, yang diperuntukkan bagi kepentingan seluruh bangsa Indonesia, yang berasal dari berbagai kelompok etnis, agama, dan budaya, dan bertujuan untuk memajukan bangsa Indonesia di bidang pendidikan, ekonomi, sosial, budaya, dan politik serta untuk memperoleh kemerdekaan dari penjajah Belanda.

[LENGKAP] Sikap Golongan Tua dan Golongan Muda pada Peristiwa Rengasdengklok

Peristiwa Rengasdengklok

Peristiwa Rengasdengklok terjadi karena perbedaan pandangan antara kelompok-kelompok tua dengan kelompok muda tentang kapan proklamasi kemerdekaan dilaksanakan. Perbedaan terjadi karena setelah mengetahui kekalahan Jepang dari Sekutu.

1. Sikap golongan tua

Disebut Golongan tua karena usianya antara 45-50 tahun. Golongan tua ini selalu bersikap hati-hati dan tetap pada pendiriannya pada perjanjiannya dengan Terauchi yaitu setelah rapat PPKI (18 Agustus 1945) tepatnya tanggal 24 Agustus 1945. Golongan tua tidak berani melanggar ketentuan itu karena khawatir akan adanya pertumpahan darah. Meskipun Jepang telah kalah, namun kekuatan militernya yang ada di Indonesia masih amat kuat.

2. Sikap golongan muda

Golongan muda karena usianya rata-rata sekitar 25 tahun. Golongan muda ini bersikap radikal/penuh emosional dan menghendaki secepatnya diumumkan proklamasi kemerdekaan, paling lambat tanggal 16 Agustus 1945.

Pengamanan Sukarno-Hatta di Rengasdengklok

Sementera itu, Sutan Syahrir seorang yang selalu mewakili dan berhubungan dengan para pemuda merasa gelisah karena telah mendengar berita kekalahan Jepang dari Sekutu melalui radio Amerika.

Setelah mendengar kepulangan Sukarno-Hatta-Rajiman Wedyodiningrat dari Dalath/Saigon/Ho Chi Minh, maka Syahrir segera datang ke rumah Hatta untuk segera memproklamirkan kemerdekaan Indonesia tanpa harus menunggu dari Pemerintah Jepang. Untuk tidak mengecewakan, maka Hatta mengajak ke rumah Sukarno.

Oleh Hatta dijelaskan maksud kedatangannya bersama Sutan Syahrir, tetapi Sukarno belum dapat menerima usul Sutan Syahrir tersebut. Sukarno memberi alasan bersedia memberi proklamasi, jika telah bertemu dengan anggota PPKI lainnya.

Sutan Syahrir kemudian pergi ke Menteng Raya, Jakarta (markas para pemuda), dan di sana ia bertemu dengan para pemuda, diantaranya Sukarni, BM Diah, Sayuti Melik, dan sebagainya. Sutan Syahrir kemudian menyampaikan laporannya kepada para pemuda, bahwa dirinya telah bertemu dengan Sukarno.

Para pemuda kemudian mengadakan rapat di salah satu ruangan di Lembaga Bakteriologi di Pegangsaan Timur, Jakarta pada tanggal 15 Agustus 1945 pada pukul 20.00 WIB. Rapat dipimpin oleh Chairul Saleh, dan dihadiri oleh Johar Nur, Kusnandar, Subadio, Margono, Wikana, dan Alamsyah.

Keputusan rapat menegaskan bahwa kemerdekaan Indonesia adalah hal dan soal rakyat Indonesia sendiri, tidak bergantung kepada orang dan negara lain. Kemudian untuk mendesak kepada Sukarno supaya bersedia melaksanakan proklamasi kemerdekaan Indonesia secepatnya, tanpa menunggu hasil sidang PPKI.

Para pemuda mengutus Wikana dan Darwis untuk menemui Sukarno di kediaman Sukarno Jl. Pegangsaan Timur No. 56 Jakarta, pada pukul 22.00 WIB. Hasil pertemuan: Sukarno belum bersedia memproklamirkan kemerdekaan Indonesia tanpa PPKI. Karena tidak mencapai kata sepakat, kalangan pemuda bermaksud mengamankan Sukarno-Hatta ke luar Jakarta.

Pada tanggal 16 Agustus 1945 tengah malam, para pemuda mengadakan rapat di Asrama Baperpi, Cikini Jakarta, dihadiri oleh Sukarni, Yusuf Kunto, dr. Muwardi, Shodanco Singgih, Chairul Saleh. Rapat memutuskan untuk mengamankan Sukarno-Hatta ke luar Jakarta, dengan pertimbangan supaya Sukarno-Hatta terlepas dari pengaruh Jepang, sehingga mereka berani memproklamirkan kemerdekaan sendiri sesuai dengan kemauan para pemuda.

Tempat yang dipilih untuk mengamankan Sukarno-Hatta adalah Rengasdengklok (kota kecil dekat Karawang) terletak 15 km dari jalan raya Jakarta-Cirebon. Pertimbangan dipilihnya Rengasdengklok ialah Daidan (setingkat batalyon) PETA Jakarta dan Rengasdengklok sering berlatih bersama. Dengan demikian, setiap gerakan pasukan Jepang ke Rengasdengklok dapat cepat diketahui dan dihadang oleh kekuatan militer PETA.

Jalannya peristiwa Rengasdengklok adalah:

  1. Pada tanggal 16 Agustus 1945 pukul 04.00 WIB dini hari, Sukarno-Hatta dibawa ke Rengasdengklok oleh Shodanco Singgih dari Daidan PETA Jakarta. Kemudian dibawa ke asrama PETA Rengasdengklok.
  2. Para pemuda mendesak kembali Sukarno-Hatta untuk memproklamasikan kemerdekaan tanpa pengaruh dari Jepang. Sukarno-Hatta tetap pada pendiriannya.
  3. Shodanco Singgih, setelah berbicara secara pribadi dengan Sukarno menyimpulkan, bahwa pemimpin itu bersedia memproklamirkan kemerdekaan setelah kembali ke Jakarta. Kemudian Shodanco Singgih segera kembali ke Jakarta, untuk menyampaikan kesediaan Sukarno kepada para pemuda.
  4. Di Jakarta terjadi kesepakatan antara golongan tua yang diwakili oleh Ahmad Subarjo (seorang yang dekat dengan golongan tua maupun muda, serta sebagai penghubung dengan pemuka angkatan laut Jepang Laksamana Muda Tadashi Maeda), dengan golongan muda yang diwakili oleh Wikana. Kesepakatan tersebut berupa akan dilaksanakannya proklamasi kemerdekaan pada tanggal 17 Agustus 1945 sebelum pukul 12.00 WIB.
  5. Atas dasar kesepakatan tersebut, Ahmad Subarjo yang didampingi oleh Sudiro dan Yusuf Kunto berangkat ke Rengasdengklok pukul 17.30 WIB untuk menjemput Sukarno-Hatta, serta meyakinkan kepada Sukarno-Hatta bahwa Jepang sudah menyerah kepada Sekutu.
  6. Ahmad Subarjo meyakinkan kepada golongan pemuda untuk melepaskan Sukarno-Hatta dengan jaminan kesepakatan perjanjian di Jakarta sebelumnya. Kemudian Shodanco kembali ke Jakarta. Selain itu ikut pula Fatmawati dan Guntur Sukarno Putra.

SEJARAH DAN PENEMU PLAYSTATION / PS

Bagi penggemar game pasti sudah tidak asing lagi bila mendengar nama "Playstation". Menghabiskan waktu dengan duduk berjam-jam memainkan game-game playstation merupakan hal yang paling mengasyikkan. Tetapi tahukah anda siapa sebenarnya creator dibalik konsol game ini???

Seorang laki-laki yang usianya sekarang sudah mencapai 60 tahunan dan berasal dari Jepang, Ken Kutaragi adalah sosok yang menghadirkan konsol permainan ini hingga bisa dinikmati oleh seluruh orang di dunia.

Ken Kutaragi
Ken Kuntaragi

Kutaragi memang dikenal sebagai siswa yang pandai di antara teman sekolahnya. Pabrik percetakan yang dimiliki keluarganya merupakan lahan yang sering dimanfaatkannya untuk mengasah kemampuan mekaniknya. Sehingga setelah lulus dari kuliah dengan gelar insiyur elektronika, dia dapat dengan mudah dunia kerja di perusahan SONY.

Di perusahaan ini dia memilki popularitas yang bagus diantara pegawai yang lainnya. Selain itu, kehadirannya disebut-sebut salah satu penyebab naiknya angka penjualan produk-produk Sony.

Sekitar tahun 1980-an, pria ini mulai tertarik pada konsol permainan. Awalnya, ide dia untuk mencipkan konsol permainan tiak disetujui oleh pihak Sony. Hingga perusahaan NINTENDO saingan besar Sony, mendekatinya untuk membuat sebuah chip konsol permainan dan Kutaragi menyetujuinya.

Namun, pihak Sony mengetahui hal ini dan Kutaragi hampir dipecat dari pekerjaannya. Chip yang berhasil di buatnya saat itu adalah SPC700. Ternyata CEO Sony yang bernama Norio Ohga malah menyuruhnya untuk menyempurnakan pekerjaannya tersebut. Kutaragi pun menyambutnya dengan melakukan riset terhadap Super NES CD, yaitu aplikasi di dalam playstation.

Akhirnya pada tahun 1990, perusahaan Sony resmi meluncurkan produk playstation. Tak pelak, produk ini langsung mendominasi pasaran dunia game. Sampai bulan Mei 2004, tercata Sony telahmemproduksi sekitar 100 juta playstation. Oleh karena prestasi tersebut, Kutaragi diangkat untuk memipin Sony Entertainment pada tahun 1997.

[LENGKAP] BIOGRAFI IMAM SYAFI'I : LAHIR SAMPAI AKHIR HAYAT

Abu ?Abdullah Muhammad bin Idris al-Syafi?i atau Muhammad bin Idris asy-Syafi`i (bahasa Arab: ???? ?? ????? ???????) yang akrab dipanggil Imam Syafi'i (Ashkelon, Gaza, Palestina, 150 H / 767M - Fusthat, Mesir 204H / 819M) adalah seorang mufti besar Sunni Islam dan juga pendiri mazhab Syafi'i.

Imam Syafi'i juga tergolong kerabat dari Rasulullah, ia termasuk dalam Bani Muththalib, yaitu keturunan dari al-Muththalib, saudara dari Hasyim, yang merupakan kakek Muhammad.

Saat usia 20 tahun, Imam Syafi'i pergi ke Madinah untuk berguru kepada ulama besar saat itu, Imam Malik. Dua tahun kemudian, ia juga pergi ke Irak, untuk berguru pada murid-murid Imam Hanafi di sana.

Imam Syafi`i mempunyai dua dasar berbeda untuk Mazhab Syafi'i. Yang pertama namanya Qaulun Qadim dan Qaulun Jadid.

Kelahiran dan kehidupan keluarga

Idris bin Abbas menyertai istrinya dalam sebuah perjalanan yang cukup jauh, yaitu menuju kampung Gaza, Palestina, dimana saat itu umat Islam sedang berperang membela negeri Islam di kota Asqalan.

Pada saat itu Fatimah al-Azdiyyah sedang mengandung, Idris bin Abbas gembira dengan hal ini, lalu ia berkata, "Jika engkau melahirkan seorang putra, maka akan kunamakan Muhammad, dan akan aku panggil dengan nama salah seorang kakeknya yaitu Syafi'i bin Asy-Syaib."

Akhirnya Fatimah melahirkan di Gaza, dan terbuktilah apa yang dicita-citakan ayahnya. Anak itu dinamakan Muhammad, dan dipanggil dengan nama "asy-Syafi'i".

Kebanyakan ahli sejarah berpendapat bahwa Imam Syafi'i lahir di Gaza, Palestina, namun di antara pendapat ini terdapat pula yang menyatakan bahwa dia lahir di Asqalan; sebuah kota yang berjarak sekitar tiga farsakh dari Gaza.

Menurut para ahli sejarah pula, Imam Syafi'i lahir pada tahun 150 H, yang mana pada tahun ini wafat pula seorang ulama besar Sunni yang bernama Imam Abu Hanifah.

Imam Ahmad bin Hambal berkata, “Sesungguhnya Allah telah mentakdirkan pada setiap seratus tahun ada seseorang yang akan mengajarkan Sunnah dan akan menyingkirkan para pendusta terhadap Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam. 

Kami berpendapat pada seratus tahun yang pertama Allah mentakdirkan Umar bin Abdul Aziz dan pada seratus tahun berikutnya Allah menakdirkan Imam Asy-Syafi`i.

Nasab

Idris, ayah Imam Syafi'i tinggal di tanah Hijaz, ia merupakan keturunan dari al-Muththalib, jadi dia termasuk ke dalam Bani Muththalib.

Nasab Dia adalah Muhammad bin Idris bin Al-Abbas bin Utsman bin Syafi’ bin As-Sa’ib bin Ubaid bin Abdi Yazid bin Hasyim bin Al-Mutthalib bin Abdulmanaf bin Qushay bin Kilab bin Murrah bin Ka’ab bin Lu’ay bin Ghalib bin Fihr bin Malik bin An-Nadhr bin Kinanah bin Khuzaimah bin Mudrikah bin Ilyas bin Mudhar bin Nizar bin Ma’ad bin Adnan. Nasabnya bertemu dengan Rasulullah di Abdul-Manaf.

Dari nasab tersebut, Al-Mutthalib bin Abdi Manaf, kakek Muhammad bin Idris Asy-Syafi`ie, adalah saudara kandung Hasyim bin Abdi Manaf kakek Nabi Muhammad shallallahu `alaihi wa alihi wasallam.

Kemudian juga saudara kandung Abdul Mutthalib bin Hasyim, kakek Nabi Muhammad shallallahu `alaihi wa alihi wasallam , bernama Syifa’, dinikahi oleh Ubaid bin Abdi Yazid, sehingga melahirkan anak bernama As-Sa’ib, ayahnya Syafi’. 

Kepada Syafi’ bin As-Sa’ib radliyallahu `anhuma inilah bayi yatim tersebut dinisbahkan nasabnya sehingga terkenal dengan nama Muhammad bin Idris Asy-Syafi`ie Al-Mutthalibi. Dengan demikian nasab yatim ini sangat dekat dengan Nabi Muhammad shallallahu `alaihi wa alihi wasallam.

Bahkan karena Hasyim bin Abdi Manaf, yang kemudian melahirkan Bani Hasyim, adalah saudara kandung dengan Mutthalib bin Abdi manaf, yang melahirkan Bani Mutthalib, maka Rasulullah bersabda:
“Hanyalah kami (yakni Bani Hasyim) dengan mereka (yakni Bani Mutthalib) berasal dari satu nasab. Sambil dia menyilang-nyilangkan jari jemari kedua tangan dia.”
—HR. Abu Nu’aim Al-Asfahani dalam Hilyah nya juz 9 hal. 65 - 66

Masa Belajar

Setelah ayah Imam Syafi’i meninggal dan dua tahun kelahirannya, sang ibu membawanya ke Mekah, tanah air nenek moyang. Ia tumbuh besar di sana dalam keadaan yatim.

Sejak kecil Syafi’i cepat menghafal syair, pandai bahasa Arab dan sastra sampai-sampai Al Ashma’i berkata,”Saya mentashih syair-syair bani Hudzail dari seorang pemuda dari Quraisy yang disebut Muhammad bin Idris,” Imam Syafi’i adalah imam bahasa Arab.

Belajar di Makkah

Di Makkah, Imam Syafi’i berguru fiqh kepada mufti di sana, Muslim bin Khalid Az Zanji sehingga ia mengizinkannya memberi fatwah ketika masih berusia 15 tahun. 

Demi ia merasakan manisnya ilmu, maka dengan taufiq Allah dan hidayah-Nya, dia mulai senang mempelajari fiqih setelah menjadi tokoh dalam bahasa Arab dan sya’irnya. Remaja yatim ini belajar fiqih dari para Ulama’ fiqih yang ada di Makkah, seperti Muslim bin khalid Az-Zanji yang waktu itu berkedudukan sebagai mufti Makkah.

Kemudian dia juga belajar dari Dawud bin Abdurrahman Al-Atthar, juga belajar dari pamannya yang bernama Muhammad bin Ali bin Syafi’, dan juga menimba ilmu dari Sufyan bin Uyainah.

Guru yang lainnya dalam fiqih ialah Abdurrahman bin Abi Bakr Al-Mulaiki, Sa’id bin Salim, Fudhail bin Al-Ayyadl dan masih banyak lagi yang lainnya. Dia pun semakin menonjol dalam bidang fiqih hanya dalam beberapa tahun saja duduk di berbagai halaqah ilmu para Ulama’ fiqih sebagaimana tersebut di atas.

Belajar di Madinah

Kemudian dia pergi ke Madinah dan berguru fiqh kepada Imam Malik bin Anas. Ia mengaji kitab Muwattha’ kepada Imam Malik dan menghafalnya dalam 9 malam. Imam Syafi’i meriwayatkan hadis dari Sufyan bin Uyainah, Fudlail bin Iyadl dan pamannya, Muhamad bin Syafi’ dan lain-lain.

Di majelis dia ini, si anak yatim tersebut menghapal dan memahami dengan cemerlang kitab karya Imam Malik, yaitu Al-Muwattha’ . Kecerdasannya membuat Imam Malik amat mengaguminya. Sementara itu As-Syafi`ie sendiri sangat terkesan dan sangat mengagumi Imam Malik di Al-Madinah dan Imam Sufyan bin Uyainah di Makkah.

Dia menyatakan kekagumannya setelah menjadi Imam dengan pernyataannya yang terkenal berbunyi: “Seandainya tidak ada Malik bin Anas dan Sufyan bin Uyainah, niscaya akan hilanglah ilmu dari Hijaz.” 

Juga dia menyatakan lebih lanjut kekagumannya kepada Imam Malik: “Bila datang Imam Malik di suatu majelis, maka Malik menjadi bintang di majelis itu.” 

Dia juga sangat terkesan dengan kitab Al-Muwattha’ Imam Malik sehingga dia menyatakan: “Tidak ada kitab yang lebih bermanfaat setelah Al-Qur’an, lebih dari kitab Al-Muwattha’ .” Dia juga menyatakan: “Aku tidak membaca Al-Muwattha’ Malik, kecuali mesti bertambah pemahamanku.”

Dari berbagai pernyataan dia di atas dapatlah diketahui bahwa guru yang paling dia kagumi adalah Imam Malik bin Anas, kemudian Imam Sufyan bin Uyainah. Di samping itu, pemuda ini juga duduk menghafal dan memahami ilmu dari para Ulama’ yang ada di Al-Madinah, seperti Ibrahim bin Sa’ad, Isma’il bin Ja’far, Atthaf bin Khalid, Abdul Aziz Ad-Darawardi. 

Ia banyak pula menghafal ilmu di majelisnya Ibrahim bin Abi Yahya. Tetapi sayang, guru dia yang disebutkan terakhir ini adalah pendusta dalam meriwayatkan hadits, memiliki pandangan yang sama dengan madzhab Qadariyah yang menolak untuk beriman kepada taqdir dan berbagai kelemahan fatal lainnya. 

Sehingga ketika pemuda Quraisy ini telah terkenal dengan gelar sebagai Imam Syafi`ie, khususnya di akhir hayat dia, dia tidak mau lagi menyebut nama Ibrahim bin Abi Yahya ini dalam berbagai periwayatan ilmu.

Di Yaman

Imam Syafi’i kemudian pergi ke Yaman dan bekerja sebentar di sana. Disebutkanlah sederet Ulama’ Yaman yang didatangi oleh dia ini seperti: Mutharrif bin Mazin, Hisyam bin Yusuf Al-Qadli dan banyak lagi yang lainnya.

Dari Yaman, dia melanjutkan tour ilmiahnya ke kota Baghdad di Iraq dan di kota ini dia banyak mengambil ilmu dari Muhammad bin Al-Hasan, seorang ahli fiqih di negeri Iraq.

Juga dia mengambil ilmu dari Isma’il bin Ulaiyyah dan Abdul Wahhab Ats-Tsaqafi dan masih banyak lagi yang lainnya.

Di Baghdad, Irak

Kemudian pergi ke Baghdad (183 dan tahun 195), di sana ia menimba ilmu dari Muhammad bin Hasan. Ia memiliki tukar pikiran yang menjadikan Khalifah Ar Rasyid.

Di Mesir

Di Mesir Imam Syafi'i bertemu dengan murid Imam Malik yakni Muhammad bin Abdillah bin Abdil Hakim. Di Baghdad, Imam Syafi’i menulis madzhab lamanya (qaul qadim).

Kemudian beliau pindah ke Mesir tahun 200 H dan menuliskan madzhab baru (qaul jadid). Di sana dia wafat sebagai syuhadaul ilm di akhir bulan Rajab 204 H.

Karya tulis Imam Syafi'i

Ar-Risalah

Salah satu karangannya adalah “Ar risalah” buku pertama tentang ushul fiqh dan kitab “Al Umm” yang berisi madzhab fiqhnya yang baru. Imam Syafi’i adalah seorang mujtahid mutlak, imam fiqh, hadis, dan ushul. Ia mampu memadukan fiqh ahli Irak dan fiqh ahli Hijaz. 

Imam Ahmad berkata tentang Imam Syafi’i,”Dia adalah orang yang paling faqih dalam Al Quran dan As Sunnah,” “Tidak seorang pun yang pernah memegang pena dan tinta (ilmu) melainkan Allah memberinya di ‘leher’ Syafi’i,”. 

Thasy Kubri mengatakan di Miftahus sa’adah,”Ulama ahli fiqh, ushul, hadits, bahasa, nahwu, dan disiplin ilmu lainnya sepakat bahwa Syafi’i memiliki sifat amanah (dipercaya), ‘adalah (kredibilitas agama dan moral), zuhud, wara’, takwa, dermawan, tingkah lakunya yang baik, derajatnya yang tinggi. Orang yang banyak menyebutkan perjalanan hidupnya saja masih kurang lengkap,”

Mazhab Syafi'i

Dasar madzhabnya: Al Quran, Sunnah, Ijma’ dan Qiyas. Dia juga tidak mengambil Istihsan (menganggap baik suatu masalah) sebagai dasar madzhabnya, menolak maslahah mursalah, perbuatan penduduk Madinah.

Imam Syafi’i mengatakan,”Barangsiapa yang melakukan istihsan maka ia telah menciptakan syariat,”. Penduduk Baghdad mengatakan,”Imam Syafi’i adalah nashirussunnah (pembela sunnah),” Muhammad bin Daud berkata, “Pada masa Imam Asy-Syafi`i, tidak pernah terdengar sedikitpun dia bicara tentang hawa, tidak juga dinisbatkan kepadanya dan tidakdikenal darinya, bahkan dia benci kepada Ahlil Kalam (maksudnya adalah golongan Ahwiyyah atau pengikut hawa nafsu yang juga digelari sebagai Ahlul-Ahwa’ seperti al-Mujassimah, al-Mu'tazilah, Jabbariyyah dan yang sebagainya) dan Ahlil Bid’ah.” 

Dia bicara tentang Ahlil Bid’ah, seorang tokoh Jahmiyah, Ibrahim bin ‘Ulayyah, “Sesungguhnya Ibrahim bin ‘Ulayyah sesat.” Imam Asy-Syafi`i juga mengatakan, “Menurutku, hukuman ahlil kalam dipukul dengan pelepah pohon kurma dan ditarik dengan unta lalu diarak keliling kampung seraya diteriaki, “Ini balasan orang yang meninggalkan kitab dan sunnah, dan beralih kepada ilmu kalam (ilmu falsafah dan logika yang digunakan oleh golongan Ahwiyyah)”.

Dia mewariskan kepada generasi berikutnya sebagaimana yang diwariskan oleh para nabi, yakni ilmu yang bermanfaat. Ilmu dia banyak diriwayatkan oleh para murid- muridnya dan tersimpan rapi dalam berbagai disiplin ilmu. Bahkan dia pelopor dalam menulis di bidang ilmu Ushul Fiqih, dengan karyanya yang monumental Risalah. Dan dalam bidang fiqih, dia menulis kitab Al-Umm yang dikenal oleh semua orang, awamnya dan alimnya. Juga dia menulis kitab Jima’ul Ilmi.

Dia mempunyai banyak murid, yang umumnya menjadi tokoh dan pembesar ulama dan Imam umat islam, yang paling menonjol adalah:

  • Ahmad bin Hanbal, Ahli Hadits dan sekaligus juga Ahli Fiqih dan Imam Ahlus Sunnah dengan kesepakatan kaum muslimin.
  • Al-Hasan bin Muhammad Az-Za’farani
  • Ishaq bin Rahawaih,
  • Harmalah bin Yahya
  • Sulaiman bin Dawud Al Hasyimi
  • Abu Tsaur Ibrahim bin Khalid Al Kalbi dan lain-lainnya banyak sekali.

Al-Hujjah

Kitab “Al Hujjah” yang merupakan madzhab lama diriwayatkan oleh empat imam Irak; Ahmad bin Hanbal, Abu Tsaur, Za’farani, Al Karabisyi dari Imam Syafi’i. Dalam masalah Al-Qur’an, dia Imam Asy-Syafi`i mengatakan, “Al-Qur’an adalah Qalamullah, barangsiapa mengatakan bahwa Al-Qur’an adalah makhluk maka dia telah kafir.”

Al-Umm

Sementara kitab “Al Umm” sebagai madzhab yang baru Imam Syafi’i diriwayatkan oleh pengikutnya di Mesir; Al Muzani, Al Buwaithi, Ar Rabi’ Jizii bin Sulaiman. Imam Syafi’i mengatakan tentang madzhabnya,”Jika sebuah hadits shahih bertentangan dengan perkataanku, maka buanglah perkataanku di belakang tembok,”.

“Kebaikan ada pada lima hal: kekayaan jiwa, menahan dari menyakiti orang lain, mencari rizki halal, taqwa dan tsiqqah kepada Allah. Ridha manusia adalah tujuan yang tidak mungkin dicapai, tidak ada jalan untuk selamat dari (ucapan) manusia, wajib bagimu untuk konsisten dengan hal-hal yang bermanfaat bagimu”.

"Ikutilah Ahli Hadits oleh kalian, karena mereka orang yang paling banyak benarnya.” Dia berkata, “Semua perkataanku yang menyelisihi hadits yang shahih maka ambillah hadits yang shahih dan janganlah taqlid kepadaku.”

Dia berkata, “Semua hadits yang shahih dari Nabi Shalallahu 'alaihi wassalam maka itu adalah pendapatku meski kalian tidak mendengarnya dariku.”

Dia mengatakan, “Jika kalian dapati dalam kitabku sesuatu yang menyelisihi Sunnah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam maka ucapkanlah sunnah Rasulullah dan tinggalkan ucapanku.”

Akhir Hayat

Pada suatu hari, Imam Syafi'i terkena wasir, dan tetap begitu hingga terkadang jika ia naik kendaraan darahnya mengalir mengenai celananya bahkan mengenai pelana dan kaus kakinya.

Wasir ini benar-benar menyiksanya selama hampir empat tahun, ia menanggung sakit demi ijtihadnya yang baru di Mesir, menghasilkan empat ribu lembar. Selain itu ia terus mengajar, meneliti dialog serta mengkaji baik siang maupun malam.

Pada suatu hari muridnya Al-Muzani masuk menghadap dan berkata, "Bagamana kondisi Anda wahai guru?" Imam Syafi'i menjawab, "Aku telah siap meninggalkan dunia, meninggalkan para saudara dan teman, mulai meneguk minuman kematian, kepada Allah dzikir terus terucap

Sungguh, Demi Allah, aku tak tahu apakah jiwaku akan berjalan menuju surga sehingga perlu aku ucapkan selamat, atau sedang menuju neraka sehingga aku harus berkabung?".

Setelah itu, dia melihat di sekelilingnya seraya berkata kepada mereka, "Jika aku meninggal, pergilah kalian kepada wali (penguasa), dan mintalah kepadanya agar mau memandikanku," lalu sepupunya berkata, "Kami akan turun sebentar untuk shalat." Imam menjawab, "Pergilah dan setelah itu duduklah disini menunggu keluarnya ruhku." 

Setelah sepupu dan murid-muridnya shalat, sang Imam bertanya, "Apakah engkau sudah shalat?" lalu mereka menjawab, "Sudah", lalu ia minta segelas air, pada saat itu sedang musim dingin, mereka berkata, "Biar kami campur dengan air hangat," ia berkata, "Jangan, sebaiknya dengan air safarjal".

Setelah itu ia wafat. Imam Syafi'i wafat pada malam Jum'at menjelang subuh pada hari terakhir bulan Rajab tahun 204 Hijriyyah atau tahun 809 Miladiyyah pada usia 52 tahun.

Tidak lama setelah kabar kematiannya tersebar di Mesir hingga kesedihan dan duka melanda seluruh warga, mereka semua keluar dari rumah ingin membawa jenazah diatas pundak, karena dahsyatnya kesedihan yang menempa mereka. Tidak ada perkataan yang terucap saat itu selain permohonan rahmat dan ridha untuk yang telah pergi.

Sejumlah ulama pergi menemui wali Mesir yaitu Muhammad bin as-Suri bin al-Hakam, memintanya datang ke rumah duka untuk memandikan Imam sesuai dengan wasiatnya. 

Ia berkata kepada mereka, "Apakah Imam meninggalkan hutang?", "Benar!" jawab mereka serempak. Lalu wali Mesir memerintahkan untuk melunasi hutang-hutang Imam seluruhnya. Setelah itu wali Mesir memandikan jasad sang Imam.

Jenazah Imam Syafi'i diangkat dari rumahnya, melewati jalan al-Fusthath dan pasarnya hingga sampai ke daerah Darbi as-Siba, sekarang jalan Sayyidah an-Nafisah.

Dan, Sayyidah Nafisah meminta untuk memasukkan jenazah Imam ke rumahnya, setelah jenazah dimasukkan, dia turun ke halaman rumah kemudian salat jenazah, dan berkata, "Semoga Allah merahmati asy-Syafi'i, sungguh ia benar-benar berwudhu dengan baik."

Jenazah kemudian dibawa, sampai ke tanah anak-anak Ibnu Abdi al-Hakam, disanalah ia dikuburkan, yang kemudian terkenal dengan Turbah asy-Syafi'i sampai hari ini, dan disana pula dibangun sebuan masjid yang diberi nama Masjid asy-Syafi'i.

Penduduk Mesir terus menerus menziarahi makam sang Imam sampai 40 hari 40 malam, setiap penziarah tak mudah dapat sampai ke makamnya karena banyaknya peziarah.