Showing posts with label Kerajaan Hindu. Show all posts
Showing posts with label Kerajaan Hindu. Show all posts

[LENGKAP] Teori Masuknya Pengaruh Hindu Budha di Indonesia

Agama Hindu dan Buddha di Indonesia sudah ada cukup lama. Awalnya agama Hindu dan Buddha berkembang di wilayah India. Kemudian menyebar luas ke negara-negara dunia, salah satunya Nusantara (Indonesia). 

Masuknya Hindu dan Bunda ke Indonesia melalui jalur perdagangan. Pada awal masehi sudah terjalin hubungan perdagangan antara China (Asia Timur) dan India (Asis Selatan) yang melintasi kawasan Asia Tenggara termasuk Indonesia. Karena Indonesia merupakan daerah yang sangat strategis dalam pelayaran dan perdagangan. 

Teori Masuknya Pengaruh Hindu Budha di Indonesia

Itu yang menyebabkan pengaruh Hindu-Buddha yang berkembang di India menyebar ke Indonesia. Dalam buku Sejarah Politik dan Kekuasaan (2019) Tappil Rambe dan kawan-kawan, melalui hubungan pelayaran dan perdagangan antara Nusantara dengan bangsa asing muncul pengaruh bagi kedua pihak. 

Di mana masyarakat Nusantara mendapat berbagai kebudayaan baru dan kemudian mengadopsi sebagian kebudayaan dari bangsa India.

Kalian pasti tidak asing lagi dengan candi Borobudur, candi Prambanan, maupun peninggalan lain – berupa prasasti dan sebagainya, yang tersebar di Indonesia dan menjadi objek wisata popular. Hal tersebut merupakan bukti bahwa pengaruh agama Hindu dan Budha di Indonesia cukup besar dan menjadi salah satu pembentuk keanekaragaman budaya di tanah air.

Pengaruh Hindu-Budha di Indonesia sendiri berlangsung lebih dari 10 abad. Tersebar luasnya pengaruh tersebut mengundang pertanyaan bagaimana kebudayaan Hindu-Budha dari India itu bisa masuk ke Indonesia?

Setidaknya, terdapat beberapa teori masuknya pengaruh Hindu Budha di Indonesia antara lain Teori Brahmana, Teori Waisya, Teori Ksatria, dan Teori Arus Balik.

Sebelum Hindu-Buddha masuk Sebelum masuknya pengaruh kebudayaan India ke Nusantara, masyarakat masih menganut kepercayaan animisme dan dinamisme. Kepercayaan itu dipegang teguh oleh masyarakat Indonesia ketika kebudayaan India masuk. 

Periode Hindu-Buddha dimulai sekitar abad ke-3, di mana pada masa itu masyarakat Nusantara belum mengenal agama dan masih menganut kepercayaan animisme dan dinamisme.

Teori Brahmana

Teori masuknya pengaruh Hindu Budha di Indonesia yang pertama adalah Teori Brahmana yang diajukan oleh Jacob Cornelis Van Liur. Teori ini mengemukakan bahwa pengaruh Hindu-Budha di Indonesia dibawa oleh para brahmana atau kalangan pemuka agama dari India. Teori ini dilandaskan pada prasasti-prasasti peninggalan kerajaan Hindu-Budha di Indonesia pada masa lampau.

Mayoritas prasasti yang ada di Indonesia ini menggunakan huruf pallawa dan bahasa sanskerta. Di India sendiri, aksara dan bahasa tersebut tidak sembarang orang yang bisa menguasainya dan hanya para golongan brahmana yang menguasainya.

Teori ini juga dikuatkan oleh kebiasaan agama Hindu yang menempatkan brahmana sebagai satu-satunya otoritas dalam ajaran agama Hindu. Maka hanya kalangan brahmana yang memahami ajaran Hindu yang benar dan utuh, konsekuensinya hanya merekalah yang berhak menyebarkan ajaran Hindu.

Menurut kerangka teori ini, para brahmana ini diundang ke Nusantara oleh para kepala suku untuk menyebarkan ajarannya beserta keluhuran nilainya pada masyarakat di Indonesia yang masih memiliki kepercayaan asli yaitu animisme dan dinamisme.

Teori Ksatria

Teori masuknya pengaruh Hindu Budha di Indonesia yang kedua adalah Teori Ksatria yang dikemukakan oleh C.C. berg Mookerji dan J.L Moens. Dalam teori ini disebutkan bahwa golongan bangsawan atau ksatria dari India yang membawa masuk dan menyebarkan pengaruh agama Hindu-Budha di Indonesia.

Sejarah penyebaran agama Hindu-Budha di kepulauan Nusantara tidak bisa dilepaskan dari sejarah kebudayaan India pada periode yang sama. Seperti diketahui, bahwa di awal abad ke 2 Masehi kerajaan-kerjaan di India mengalami keruntuhan karena adanya perebutan kekuasaan.

Penguasa-penguasa dari golongan ksatria di kerajaan-kerajaan yang kalah perang pada masa itu dianggap melarikan diri ke Indonesia, kemudian mendirikan koloni maupun kerajaan baru yang bercorak agama Hindu-Budha.

Wilayah Indonesia menjadi pilihan karena mengikuti jalur perdagangan antara India dan Indonesia pada masa itu. Dalam perkembangannya, mereka pun kemudian menyebarkan ajaran dan kebudayaan kedua agama tersebut pada masyarakat local yang ada di Indonesia.

Teori Waisya

Teori Waisya ini dikemukan oleh NJ Krom, dimana teori ini menjelaskan bahwa masuk dan berkembangnya pengaruh Hindu-Budha di Indonesia dibawa oleh orang India berkasta Waisya atau golongan pedagang. Para pedagang merupakan kelompok masyarakat asal India yang paling banyak berintekasi dengan masyarakat pribumi.

Menurut kerangka teori ini, para pedagang India mengenalkan ajaran Hindu dan Budha beserta nilai-nilai budanya kepada masyarakat local. Kegiatan itu dilakukan saat berlabuh ke Nusantara untuk berdagang, lantaran saat itu pelayaran sangat bergantung pada musim angin sehingga dalam beberapa waktu mereka akan menetap di kepulauan di Indonesia sampai angin laut yang akan membawa mereka kembali ke India berhembus.

Teori Arus Balik

Teori arus balik ini dikemukan oleh F.D.K Bosch yang mengatakan penyebaran pengaruh Hindu-Budha di Indonesia terjadi karena peran aktif masyarakat Indonesia sendiri. 

Pengenalan pengaruh Hindu-Budha ini merupakan inisiatif oleh orang-orang India atau para pendeta tetapi yang menyebarkan adalah orang Indonesia yang diutus oleh raja di Nusantara untuk mempelajari agama dan budaya para pendeta India di Negara asalnya.

Setelah utusan tersebut menguasai ajaran agama maka mereka akan kembali ke Indonesia dan menyampaikan pada Raja. Selanjutnya, raja akan meminta para utusan tersebut untuk menyebarkan dan mengajarkan pengetahuan yang diperoleh pada penduduk atau rakyat kerajaan.

Hal tersebut tentu saja berpengaruh terhadap semakin berkembangnya ajaran agama baik Hindu maupun Budha dan terbentuklah kerajaan-kerajaan yang bercorak baik itu agama Hindu maupun Budha di Nusantara.


Sumber Referensi :

Kompas.com

https://www.kelaspintar.id/blog/edutech/teori-masuknya-pengaruh-hindu-budha-di-indonesia-7881/

Sejarah Lengkap Gayatri atau Rajapatni

Gayatri atau Rajapatni adalah nama salah satu istri Raden Wijaya raja pertama Majapahit (1293-1309) yang menurunkan raja-raja selanjutnya.

Nagarakretagama menyebutkan Raden Wijaya menikahi empat orang putri Kertanagara, raja terakhir Singhasari, yaitu Tribhuwana bergelar Tribhuwaneswari, Mahadewi bergelar Narendraduhita, Jayendradewi bergelar Prajnyaparamita, dan Gayatri bergelar Rajapatni. Selain itu, ia juga memiliki seorang istri dari Melayu bernama Dara Petak bergelar Indreswari.


Sejarah Lengkap Gayatri atau Rajapatni

Dari kelima orang istri tersebut, yang memberikan keturunan hanya Dara Petak dan Gayatri. Dari Dara Petak lahir Jayanagara, sedangkan dari Gayatri lahir Tribhuwanatunggadewi dan Rajadewi. Tribhuwanotunggadewi inilah yang kemudian menurunkan raja-raja Majapahit selanjutnya.

Kitab Pararaton menyebutkan Raden Wijaya hanya menikahi dua orang putri Kertanagara saja. Pemberitaan tersebut terjadi sebelum Majapahit berdiri. Diperkirakan, mula-mula Raden Wijaya hanya menikahi Tribhuwaneswari dan Gayatri saja.

Baru setelah Majapahit berdiri, ia menikahi Mahadewi dan Jayendradewi pula. Dalam Kidung Harsawijaya, Tribhuwana dan Gayatri masing-masing disebut dengan nama Puspawati dan Pusparasmi.

Pada saat Singasari runtuh akibat serangan Jayakatwang tahun 1292, Raden Wijaya hanya sempat menyelamatkan Tribhuwana saja, sedangkan Gayatri ditawan musuh di Kadiri. Setelah Raden Wijaya pura-pura menyerah pada Jayakatwang, baru ia bisa bertemu Gayatri kembali.

Pararaton menyebutkan, Raden Wijaya bersekutu dengan bangsa Tatar (Mongol) untuk dapat mengalahkan Jayakatwang. Konon raja Tatar bersedia membantu Majapahit karena Arya Wiraraja menawarkan Tribhuwana dan Gayatri sebagai hadiah.

Kisah tersebut hanyalah imajinasi pengarang Pararaton saja, karena tujuan utama pengiriman pasukan Mongol yang dipimpin Ike Mese ke tanah Jawa adalah untuk menaklukkan Kertanagara.

Setelah Jayakatwang kalah, Raden Wijaya dan Arya Wiraraja ganti menghadapi pasukan Tatar. Dikisahkan dalam Pararaton bahwa, kedua putri siap untuk diserahkan dengan syarat tentara Tatar harus menyembunyikan senjata masing-masing, karena kedua putri tersebut ngeri melihat senjata dan darah.

Maka, ketika pasukan Tatar, tanpa senjata, datang menjemput kedua putri, pasukan Raden Wijaya segera membantai mereka.

Raden Wijaya menjadi raja pertama Majapahit sejak tahun 1293. Ia meninggal tahun 1309 dan digantikan putranya, yaitu Jayanagara. Pada tahun 1328 Jayanagara mati dibunuh Ra Tanca.

Menurut Nagarakretagama, sebagai sesepuh keluarga kerajaan yang masih hidup, Gayatri berhak atas tahta. Akan tetapi Gayatri saat itu sudah mengundurkan diri dari kehidupan duniawi dengan menjadi Bhiksuni (pendeta Buddha). 

Ia lalu memerintahkan putrinya, Tribhuwanotunggadewi naik tahta mewakilinya pada tahun 1329 menggantikan Jayanagara yang tidak punya keturunan. Pada tahun 1350, Tribhuwanotunggadewi turun tahta bersamaan dengan meninggalnya Gayatri.

Nagarakretagama seolah memberitakan kalau takhta Jayanagara diwarisi Gayatri, karena ibu tirinya itu adalah putri Kertanagara. Mengingat Gayatri adalah putri bungsu, kemungkinan saat itu istri-istri Raden Wijaya yang lain sudah meninggal semua dan garis keturunan yang masih tersisa adalah dari Gayatri. 

Karena Gayatri telah menjadi pendeta, maka pemerintahannya pun diwakili oleh puterinya, Tribhuwanotunggadewi yang diangkat sebagai Rajaputri (Raja perempuan), sebutan untuk membedakan dengan istilah "Ratu" dalam bahasa Jawa yang berarti "penguasa".

Sementara pihak menganggap berita dalam Nagarakretagama tersebut kurang tepat, karena pada tahun 1351 Tribhuwanotunggadewi masih menjadi rajaputri, terbukti dengan ditemukannya prasasti Singasari. 

Nagarakretagama dan Pararaton juga memberitakan pada tahun 1362 Hayam Wuruk (raja keempat) mengadakan upacara Sraddha memperingati 12 tahun meninggalnya Gayatri Rajapatni.

Teori Brahmana, Waisya, Ksatria, Arus Balik, Sudra

Pada masa perdagangan kuno, kota-kota di pesisir Pulau Sumatra dan Jawa berkembang menjadi pusat perdagangan. Pedagang yang singgah di kota-kota pesisir tersebut tidak hanya berasal dari dalam negeri, tetapi juga dari luar negeri. 

Hal itu terjadi karena letak Kepulauan Indonesia berada di daerah yang strategis, yaitu di antara dua benua dan dua samudra. Keadaan ini menyebabkan Indonesia menjadi daerah yang dilewati jalur perdagangan dan pelayaran internasional dan berakibat pula masuknya pengaruh hindu-buddha.

Teori Brahmana, Waisya, Ksatria, Arus Balik, Sudra

Menurut sejarawan van Leur dan Wolters, hubungan dagang antara Indonesia dan India lebih dahulu berkembang daripada hubungan dagang antara Indonesia dan Cina. 

Namun, sumber sejarah untuk mengungkapkan hubungan antara Indonesia dan India ini sangat terbatas, yaitu melalui kitab-kitab sastra dan sumbersumber dari Barat. 

Sementara itu, orang-orang Cina mempunyai kebiasaan menuliskan kisah perjalanannya sehingga banyak ditemukan sumber-sumber tentang hubungan dagang Indonesia-Cina.

1. Teori Brahmana

Teori Brahmana adalah teori yang menyatakan bahwa masuknya Hindu Budha ke Indonesia dibawa oleh para Brahmana atau golongan pemuka agama di India. 

Teori ini dilandaskan pada prasasti-prasasti peninggalan kerajaan Hindu Budha di Indonesia pada masa lampau yang hampir semuanya menggunakan huruf Pallawa dan bahasa Saksekerta. Di India, aksara dan bahasa ini hanya dikuasai oleh golongan Brahmana.

Selain itu, teori masuknya Hindu Budha ke Indonesia karena peran serta golongan Brahmana juga didukung oleh kebiasaan ajaran Hindu. Seperti diketahui bahwa ajaran Hindu yang utuh dan benar hanya boleh dipahami oleh para Brahmana. 

Pada masa itu, hanya orang-orang golongan Brahmana-lah yang dianggap berhak menyebarkan ajaran Hindu. Para Brahmana diundang ke Nusantara oleh para kepala suku untuk menyebarkan ajarannya pada masyarakatnya yang masih memiliki kepercayaan animisme dan dinamisme.

2. Teori Waisya

Teori Waisya menyatakan bahwa terjadinya penyebaran agama Hindu Budha di Indonesia adalah berkat peran serta golongan Waisya (pedagang) yang merupakan golongan terbesar masyarakat India yang berinteraksi dengan masyarakat nusantara. 

Dalam teori ini, para pedagang India dianggap telah memperkenalkan kebudayaan Hindu dan Budha pada masyarakat lokal ketika mereka melakukan aktivitas perdagangan.

Karena pada saat itu pelayaran sangat bergantung pada musim angin, maka dalam beberapa waktu mereka akan menetap di kepulauan Nusantara hingga angin laut yang akan membawa mereka kembali ke India berhembus. Selama menetap, para pedagang India ini juga melakukan dakwahnya pada masyarakat lokal Indonesia.

3. Teori Ksatria

Dalam teori Ksatria, penyebaran agama dan kebudayaan Hindu-Budha di Indonesia pada masa lalu dilakukan oleh golongan ksatria. Menurut teori masuknya Hindu Budha ke Indonesia satu ini, sejarah penyebaran Hindu Budha di kepulauan nusantara tidak bisa dilepaskan dari sejarah kebudayaan India pada periode yang sama. 

Seperti diketahui bahwa di awal abad ke 2 Masehi, kerajaan-kerajaan di India mengalami keruntuhan karena perebutan kekuasaan. Penguasa-penguasa dari golongan ksatria di kerajaan-kerajaan yang kalah perang pada masa itu dianggap melarikan diri ke Nusantara. 

Di Indonesia mereka kemudian mendirikan koloni dan kerajaan-kerajaan barunya yang bercorak Hindu dan Budha. Dalam perkembangannya, mereka pun kemudian menyebarkan ajaran dan kebudayaan kedua agama tersebut pada masyarakat lokal di nusantara.

4. Teori Arus Balik (Nasional)

Teori arus balik menjelaskan bahwa penyebaran Hindu Budha di Indonesia terjadi karena peran aktif masyarakat Indonesia di masa silam. Menurut Bosch, pengenalan Hindu Budha pertama kali memang dibawa oleh orang-orang India. 

Mereka menyebarkan ajaran ini pada segelintir orang, hingga pada akhirnya orang-orang tersebut tertarik untuk mempelajari kedua agama ini secara langsung dari negeri asalnya, India. 

Mereka berangkat dan menimba ilmu di sana dan sekembalinya ke Indonesia, mereka kemudian mengajarkan apa yang diperolehnya pada masyarakat Nusantara lainnya.

5. Teori Sudra

Teori Sudra menjelaskan bahwa penyebaran agama dan kebudayaan Hindu Budha di Indonesia diawali oleh para kaum sudra atau budak yang bermigrasi ke wilayah Nusantara. 

Mereka menetap dan menyebarkan ajaran agama mereka pada masyarakat pribumi hingga terjadilah perkembangan yang signifikan terhadap arah kepercayaan mereka yang awalnya animisme dan dinamisme menjadi percaya pada ajaran Hindu dan Budha.



Berdasarkan beberapa teori tersebut, diperoleh gambaran bahwa hubungan dagang menyebabkan terjadinya proses masuk dan berkembangnya agama dan kebudayaan Hindu-Buddha di Indonesia. 

Selain itu, dapat disimpulkan bahwa agama dan kebudayaan HinduBuddha berkembang kali pertama di antara golongan elit di sekitar istana. Dari golongan elit kuno Indonesia inilah sebagian masyarakat golongan bawah mendapatkan ajaran Hindu-Buddha. 

Sebagian lainnya melakukan kontak langsung dengan para pedagang India melalui jalur perdagangan.

Selain dengan India, bangsa Indonesia pada zaman kuno telah menjalin hubungan dagang dengan Cina. Satu hal yang penting dalam hubungan dagang antara Indonesia dan Cina adalah adanya hubungan pelayaran langsung antara kedua tempat tersebut. 

Bukti adanya pelayaran antara Indonesia dan Cina berasal dari abad V Masehi. Hal ini ditunjukkan dalam catatan perjalanan dua orang pendeta Buddha, yaitu Fa-Hsien dan Gunawarman.

Sebuah berita mengenai hubungan antara orang Indonesia dan Cina adalah datangnya utusan dari Ho-lo-tan, sebuah negeri di She-po (Jawa). Hubungan dagang Indonesia dengan India dan Cina telah menempatkan Indonesia pada jaringan pergaulan internasional. 

Selain itu, pengaruh India serta Cina telah menyebabkan perubahan dalam tata susunan masyarakat di Indonesia.

[LENGKAP] Mengenal Kerajaan Sribangun, Sejarah dan Letaknya

Sejarah Kerajaan Sribangun

Sampai sekarang kerajaan Sri Bangun memang masih menjadi misteri bagi para sejarawan dan penduduk kota bangun khususnya. Bagi para sejarawan misteri kerajaan ini mungkin terletak pada minimnya bukti-bukti sejarah guna mengetahui tentang kerajaan ini pada masa lampau.


Sejarah Kerajaan Sribangun

Bagi masyarakat kota bangun misteri kerajaan ini adalah sebuah cerita “peristiwa gaibnya kerajaan Sri Bangun”. Masyarakat kota bangun saat ini masih meyakini/mempercayai keberadaan kerajaan ini sampai sekarang ini, namun keberadaannya ada secara gaib.

Diperkirakan merupakan negeri bawahan dari Kerajaan Martadipura, namun berbeda dengan Martadipura yang Hindu, Kerajaan ini malah menunjukkan corak sebagai Kerajaan Budha dengan ditemukannya beberapa peninggalan seperti Arca Budha Pengembara dari Perunggu, dan Patung Lembu Nandi yang oleh masyarakat setempat disebut sebagai Singa Noleh.

Letak Kerajaan Sribangun

Kota Bangun terletak sekitar 88 Km dari Tenggarong Ibu Kota Kabupaten Kutai Kartanegara, terletak di sisi kiri mudik Sungai Mahakam. 


Letak Kerajaan Sribangun

Merupakan sebuah daerah yang memiliki sejarah peradaban lama. Bekas wilayah Kerajaan Sri Bangun dengan Rajanya yang paling terkenal bernama Qeva.

Diperkirakan merupakan negeri bawahan dari Kerajaan Martadipura, namun berbeda dengan Martadipura yang Hindu, Kerajaan ini malah menunjukkan corak sebagai Kerajaan Budha dengan ditemukannya beberapa peninggalan seperti Arca Budha Pengembara dari Perunggu, dan Patung Lembu Nandi yang oleh masyarakat setempat disebut sebagai Singa Noleh.

Keberadaan Patung Lembu Nandi itu terletak di sebuah dataran tinggi yang berhadapan langsung dengan Sungai Mahakam, di mana pada arah Ulunya ada sebuah Danau yang bernama Kedang Murung kawasan ini sekarang dikenal sebagai Situs Sri Bangun.

Strategisnya Situs Sri Bangun ini juga dimanfaatkan Sultan Kutai Kartanegara Aji Muhammad Salehuddin, sebagai wadah pengungsian ketika kalah perang melawan Pasukan Belanda pada tahun 1844. 

Ditempat itu Sultan bersama keluarga dan mentrinya beserta Ratusan Pengawal membangun kubu pertahanan serta beberapa istana sementara.

Situs Sri Bangun ini hingga sekarang tetap di keramatkan penduduk Kutai Kartanegara, karena dipercaya Kerajaan Sri Bangun yang memang misterius tersebut, hingga kini masih ada secara gaib. 

Banyak warga yang telah melihat bayangan Istana megah di wilayah pada waktu-waktu tertentu, terkadang pula ditemukan beberapa lelaki dan wanita misterius yang apabila diikuti menghilang begitu saja.

Demikian pembahasan kali ini semoga bermanfaat dan menambah pengetahuan, jangan lupa share dan komentar dibawah ya, terimakasih...


Tag :
#Kapan Kerajaan Sri Bangun berdiri?
#Kerajaan Sri Bangun bercorak apa?
#Di manakah letak Kerajaan Sri Bangun?
#Siapa yang mendirikan Kerajaan Sri Bangun?

Mengenal Kerajaan Darmasraya dan Peninggalannya

Dharmasraya diyakini merupakan lanjutan dari Kerajaan Malayu yang semula berpusat di muara Jambi dan eksis sezaman dengan Kerajaan Sriwijaya di Palembang. 

Setelah Sriwijaya hancur, pusat kerajaan kemudian dipindahkan ke Dharmasraya melalui Sungai Batanghari. Dharmasraya eksis sekitar 1286 hingga 1347 Masehi.

Meski begitu, ibukota Kerajaan Malayu ini juga pernah dipindahkan dari Dharmasraya ke Suruaso di Tanahdatar oleh Raja Akarendrawarman yang diperkirakan paman Adityawarman pada 1310. 

Letak Kerajaan Darmasraya

Dharmasraya berubah status menjadi semacam provinsi. Pemindahan diduga terkait pencarian sumber emas yang lebih banyak dan alasan keamanan.

Nama kerajaan kuno itu kini bertahan sebagai nama kabupaten di Sumatra Barat. Di tepi Sungai Batanghari yang mengalirinya terdapat kompleks bangunan bata yang menjadi bukti keberadaannya. 

Bangunan yang tersisa bagian pondasinya itu dikenal sebagai situs percandian Padangroco. Di sana pula ditemukan alas arca paduka Amoghapasa, salah satu perwujudan Lokeswara.

Arca itu hadiah dari Sri Maharajadhiraja Krtanagara Wikrama Dharmmottunggadewa di Kerajaan Singhasari kepada Sri Maharaja Srimat Tribhuwanaraja Mauliwarmmadewa hampir delapan abad yang lalu.

Di era pemerintahan Raja Adityawarman, raja yang terkenal meninggalkan banyak prasasti di Pagaruyung ini diduga sudah berkedudukan di Saruaso. Adityawarman diduga sebagai raja terakhir ketika agama Hindu-Buddha perlahan namun pasti terkena Islamisasi di Pulau Sumatera yang dimulai abad ke-12 hingga abad ke-15.

Peninggalan Kerajaan Dharmasraya

Peninggalan Kerajaan Dharmasraya

Di Sumatra terdapat banyak kerajaan Islam yang punya peranan dan sejarah penting. Pada masa kejayaannya, kerajaan-kerajaan tersebut memiliki wilayah kekuasaan yang cukup besar dan luas. Pengaruhnya juga cukup besar.

Salah satunya Kerajaan Dharmasraya yang berada di Provinsi Sumatra Barat. Dulu, wilayah kekuasaan kerajaan ini merupakan wilayah kekuasaan Kerajaan Sriwijaya sebelumnya, yaitu dari Semenanjung Malaya hingga Sumatra.

Kini, Dharmasraya menjadi kabupaten baru hasil pemekaran Kabupaten Sawahlunto/Sijunjung. Namun, bekas-bekas kejayaan kerajaan Islam Dharmasraya masih bisa disaksikan hingga saat ini. Sayang, ada beberapa yang kurang mendapat perawatan dan perhatian sebagaimana mestinya.n

Rumah Gadang Siguntur

Bangunan kerajaan ini dibangun pada abad ke-17. Luas bangunannya sekitar 118,4 meter persegi. Letaknya berada di Jorong Siguntur, Nagari Siguntur, Kecamatan Sitiung, Kabupaten Dharmasraya.

Rumah gadang ini awalnya difungsikan sebagai tempat musyawarah adat. Hingga kini, fungsi tersebut masih dijalankan. Sebagaimana bangunan khas Minangkabau, rumah gadang ini atapnya berbentuk bergonjong yang terbuat dari seng. Sedangkan, dinding dan lantainya dari kayu, begitu juga jendela dan pintu.

Masjid Tua Siguntur

Masjid ini usianya sudah lebih dari 100 tahun. Lokasinya berada persis di sebelah makam raja Siguntur. Atapnya terbuat dari seng yang berbentuk tumpang tiga.

Masjid Siguntur berdiri di atas tanah berukuran 21,7 x 19 meter. Masjid dikelilingi pagar beton di bagian depan dan pagar kawat duri di bagian samping dan belakang. Ruang utama masjid berukuran 15 x 10 meter dan berdinding batu kali setebal 40 cm.

Ada delapan jendela kayu yang terdapat di dalam masjid. Sedangkan, tiang utamanya berjumlah lima buah yang terbuat dari kayu ulin. Juga ada tiang pendukung berjumlah 12 buah.

Situs Makam Raja Siguntur

Ini merupakan kompleks pemakaman raja Siguntur dan keturunannya. Namun, makam ini berbeda dengan pemakaman raja pada umumnya yang mewah. Makam raja Siguntur sangat sederhana karena hanya ditandai dengan nisan dan jirat dari bata dan batu.

Ada cukup banyak tokoh yang dimakamkan di sini. Namun, yang bisa dikenali hanya enam. Yaitu, makam Sri Maharaja Diraja Ibnu bergelar Sultan Muhammad Syah bin Sora, Sultan Abdul Jalil bin Sultan Muhammad Syah Tuangku Bagindo Ratu II, dan Sultan Abdul Kadire Tuangku Bagindo Ratu III.

Selain itu, Sultan Amirudin Tuangku Bagindo Ratu IV, Sultan Ali A Tuangku Bagindo V, dan Sultan Abu Bakar Tuangku Bagindo Ratu VI.


Demikian pembahasan kali ini semoga bermanfaat dan menambah pengetahuan, jangan lupa share dan komentar dibawah ya...

[LENGKAP] Kerajaan Mataram Kuno : Sejarah, Letak, Raja, Kehidupan, Kejayaan, Keruntuhan dan Peninggalan

Kerajaan Mataram Kuno berada di Yogyakarta, kerajaan ini dikelilingi dengan pegunungan, sehingga tanahnya sangat subur.

Lokasi asli kerajaan ini terkadang berpindah-pindah akibat bencana. Agama yang dianut oleh masyarakatnya, yaitu Hindu Siwa yang selanjutnya berganti menjadi Budha Mahayana.

Kerajaan ini tercatat telah menaklukan tiga dinasti, dengan menggunakan sistem pemerintahan dari kerajaan Majapahit, sekaligus meneruskan tahta dari kerajaan Kalingga.

[LENGKAP] Kerajaan Mataram Kuno : Sejarah, Letak, Raja, Kehidupan, Kejayaan, Keruntuhan dan Peninggalan

Kerajaan Mataram Kuno sendiri pernah berada di bawah kekuasaan 3 wangsa. Ketiga wangsa tersebut ialah Wangsa Sanjaya, Wangsa Syailendra dan Wangsa Isana. 

Wangsa Sanjaya sendiri merupakan pemeluk agama Hindu beraliran Syiwa, Wangsa Syailendra adalah pengikut agama Budha. Sedangkan Wangsa Isana adalah wangsa yang masih baru dan didirikan oleh Mpu Sindok.

Raja pertama yang memimpin Kerajaan Mataram Kuno ialah Raja Sanjaya. Sanjaya adalah pendiri Wangsa Sanjaya yang menganut agama Hindu.

Selanjutnya Sanjaya diganti oleh Rakai Panangkaran yang pindah ke agama Budha beraliran Mahayana. Saat itulah wangsa Isana menjadi berkuasa. Meski demikian, agama Hindu dan Budha berkembang bersama.

Letak Kerajaan Mataram Kuno

Letak Kerajaan Mataram Kuno

Lokasi kerajaan ini dikelilingi oleh banyak pegunungan, gunung-gunung dan banyak dialiri oleh sungai-sungai, sehingga sangat terkenal akan kesuburan tanahnya.

Letak Kerajaan Mataram Kuno

Tepatnya terletak di Jawa Tengah, dan pusatnya yang memiliki sebutan Bumi Mataram.

Raja dan Silsilah Kerajaan Mataram Kuno

Raja dan Silsilah Kerajaan Mataram Kuno

Berikut merupakan daftar raja-raja yang sempat mendapat tampuk kekuasaan dalam memerintah kerajaan Medang.

1. Rakai Mataram Sang Ratu Sanjaya

Ratu ini merupakan penguasa, yang pertama memerintah selama kurang lebih 29 tahun dari 717 Masehi sampai 746 Masehi. Ketika ia berkuasa tercatat sudah hadir raja lain, yang berkuasa di Pulau Jawa yaitu Sana yang merupakan saudara dari sang ibunda Ratu.

2. Sri Maharaja Rakai Panangkaran Dyah Pancapana

Raja kedua ini berkuasa pada abad 770 Masehi. Pada masanya tercatat, bahwa beliau sudah mampu membangung sebuah candi yang dikenal dengan nama Candi Kalasan. Serta Raja Rakai ini masih memiliki kekerabatan dengan Ratu Sanjaya.

3. Dharanindra atau Indra

Raja ini merupakan Wangsa Sailendra, beliau berkuasa atas kerajaan Medang sekaligus kerajaan Sriwijaya. Beliau berkuasa pada abad ke 782 M.

Tercatat dalam prasasti dari semenanjung Malaya, hingga daratan indocina telah berhasil ditaklukan.

Hingga beliau diberi julukan sebagai penumpas musuh-musuh atau Wairiwarawiramardana.

4. Sri Maharaja Rakai Warak

Raja ini memiliki nama asli Samaragrawira, ia merupakan penguasa keempat dari kerajaan Medang sekaligus menguasai kerajaan Sriwijaya.

Kekuasaan dimulai pada tahun 802 Masehi, raja ini juga merupakan putra dari raja sebelumnya yang memiliki julukan penumpas musuh yang perwira.

5. Rakai Garung

Raja ini merupakan penguasa kelima, yang memegang tampuk kekuasaan di kerajaan Medang. Ia merupakan wangsa Sanjaya, dan berkuasa antara abad 828-847 Masehi.

Tercatat dalam prasasti beliau bersama, dengan Partapan Pu Palar melakukan upacara Sima.

6. Sri Maharaja Rakai Pikatan Mpu Manuku

Merupakan raja ke-6 yang berkuasa sekitar abad 840-an Masehi hingga 856 Masehi.

Tercatat dalam prasasti, bahwa beliau berhasil membuat bangunan suci Siwagraha atau yang kini dikenal sebagai candi Siwa.

Sang raja juga mendapat gelar Jatiningrat pada abad 856, yang kemudian kekuasaanya diwariskan kepada anak bungsunya Dyah Lokapala.

7. Sri Maharaja Rakai Kayuwangi

Ialah putera terakhir Raja keenam, mulai memimpin sejak 856 M sampai 880-an M.

Beliau dilahirkan dari Raja Rakai Pikatan dan Permaisuri Pramodawardhani. Tidak diketahui bagaimana pastinya turunnya takhta kepada beliau.

8. Sri Maharaja Rakai Watuhumalang 

Raja kedelapan ini, memulai pemerintahaanya di kerajaan Medang periode Jawa Tengah pada tahun 890-an Masehi.

Tidak terdapat prasasti yang mencantumkan namanya, ia merupakan menantu dari Rakai Pikatan dan merupakan saudara tiri dari raja ketujuh.

9. Sri Maharaja Rakai Watukura

Berkuasa di Jawa Tengah, sejak abad 899-911 M. Pada masa ini kerajaan berada di Poh Pitu atau yang disebut dengan Yawapura.

Wilayah kerajaannya meliputi Jawa Tengah, Jawa Timur hingga daerah Bali.

10. Mpu Daksa 

Raja kesepuluh ini mulai berkuasa sekitar 913 Masehi sampai 919 Masehi. Beliau merupakan saudara ipar dari raja kesembilan, hal tersebut tercatat dalam beberapa prasasti.

Hubungan kekerabatannya sering disandingkan dengan nama istri dari Dyah Balitung dalam prasasti.

11. Sri Maharaja Rakai Layang

Memimpin sejak abad 919-924 M. Ratu kesebelas ini merupakan putri dari raja kesepuluh.

Berakhirnya kekuasaan nya disebabkan karena adanya kudeta dari Dyah Wawa yang dibantu oleh Mpu Sindok, hal tersebut tercatat dalam prasasti.

12. Sri Maharaja Rakai Sumba

Beliau adalah putera Rakai Kayuwangi, dan juga sepupu Dyah Bhumiyaja. Raja kedua belas ini mulai berkuasa pada tahun 924-929 Masehi.

Prasasti yang mencatatnya sebagai orang yang melakukan kudeta, yaitu prasasti Sangguran.

13. Mpu Sindok 

Raja ke-13 ini merupakan raja pertama dalam periode Jawa Timur, ia memulai kekuasaannya pada tahun 929 Masehi hingga 947 Masehi.

14. Sri Isyana Tunggawijaya 

Ratu keempat belas ini memulai kekuasaan sekitar tahun 947 Masehi. Ia berkuasa bersama dengan suaminya Sri Lokapala.

Namanya dijadikan sebagai nama dari dinasti yang baru yaitu wangsa Isana oleh sang ayah, yang berlokasi di Jawa Timur.

15. Sri Makutawangsawardhana 

Raja kelima belas ini mulai berkuasa sebelum tahun 990 Masehi. Beliau merupakan putra dari Ratu keempat belas.

Masa kerajaan yang dikuasainya tidak diketahui berapa lama pastinya. Ia memiliki seorang putri yaitu Mahendradatta.

16. Sri Maharaja Isana Dharmawangsa Teguh Anantawikramottunggadewa 

Menjadi raja terakhir, yang berkuasa sejak tahun 991 M hingga 1016 M.

Tercatat dalam sejarah bahwa ketika ia menikahkan puterinya dengan Airlangga, terjadi serangan mendadak dari Kerajaan Lwaram atas bantuan kerajaan Sriwijaya hingga kerajaan menjadi runtuh dan lahir kerajaan baru dengan Airlangga sebagai rajanya.

Kerajaan mataram kuno berdiri pada abad ke 7 Masehi hingga abad ke 10 Masehi. Kerajaan ini sempat dipimpin oleh 16 raja dan ratu yang memiliki kekuasaan dalam periode Jawa Tengah dan Jawa Timur. Sejarah kerajaan ini tercatat dalam 14 buah prasasti kuno.

Kehidupan Pada Masa Kerajaan Mataram Kuno

Kehidupan Pada Masa Kerajaan Mataram Kuno

Kehidupan Politik

Berdasarkan catatan yang ada di dalam prasasti Metyasih, Rakai Watukumara Dyah Balitung (Wangsa Sanjaya ke-9) mereka memberikan hadiah berupa tanah kepada 5 orang patihnya yang memiliki jasa yang besar terhadap Mataram.

Kehidupan Ekonomi

Di masa dinasti sanjaya kehidupan ekonomi pada saat itu bertumpu pada sektor pertanian sebab keberadaannya yang berada di dalam pedalaman dan juga memiliki tanah yang subur.

Seiring berjalannya waktu, kerajaan ini mulai mengembangkan kehidupan dibidang pelayaran.

Hal ini bermula ketika masa pemerintahan Balitung yang memanfaatkan keberadaan sungai bengawan solo sebagai jalur lalu lintas utama perdagangan menuju pantai utara Jawa Timur.

Kehidupan Agama

Berdasarkan catatan yang tertulis di dalam prasasti Canggal dapat ditarik kesimpulan bahwa dimasa wangsa sanjaya mempunyai kepercayaan agama Hindu dengan beraliran Siwa.

Kehidupan Sosial

Sebetulnya dimasa dinasti Syailendra tidak diketahui secara jelas mengenai kehidupan sosialnya.

Namun berdasarkan peninggalan berupa candi-candi para ahli sejarah menyimpulkan bahwa kehidupan sosial dimasa itu sudah sangat teratur.

Hal ini bisa diliat dalam cara pembuatan cadi dengan tenaga masyarakat yang bergotong-royong. Selain itu, hal itu juga menyimpulkan betawa patuhnya para rakyat mematuhi rajanya.

Dengan keberadaan dua agama yang berbeda, toleransi diantara masyarakat juga sangat baik.

Masa Kejayaan Kerajaan Mataram Kuno

Masa Kejayaan Kerajaan Mataram Kuno

Kerajaan Mataram Kuno mencapai puncak kejayaan pada masa pemerintahan Raja Balitung (898-910 M). Di masa kekuasaannya, daerah-daerah di sebelah timur Mataram berhasil ditaklukkannya. 

Oleh karena itu, daerah kekuasaan Mataram semakin luas, yang meliputi Bagelen (Jawa Tengah) sampai Malang (Jawa Timur).

Penyebab kejayaan kerajaan Mataram Kuno:
  • Naik tahtanya Sanjaya yang sangat ahli dalam peperangan
  • Pembangunan sebuah waduk Hujung Galuh di Waringin Sapta (Waringin Pitu) guna mengatur aliran Sungai Berangas, sehingga banyak kapal dagang dari Benggala, Sri Lanka, Chola, Champa, Burma, dan lain-lain datang ke pelabuhan itu.
  • Pindahnya kekuasaan dari Jawa Tengah ke Jawa Timur
  • Adanya sungai-sungai besar, antara lain Sungai Brantas dan Bengawan Solo yang sangat memudahkan bagi lalu lintas perdagangan.
  • Adanya dataran rendah yang luas sehingga memungkinkan penanaman padi secara besar-besaran.
  • Lokasi Jawa Timur yang berdekatan dengan jalan perdagangan utama waktu itu, yaitu jalur perdagangan rempah-rempah dari Maluku ke Malaka.

Masa Keruntuhan Kerajaan Mataram Kuno

Masa Keruntuhan Kerajaan Mataram Kuno

Runtuhnya kerajaan Mataram disebabkan oleh beberapa faktor. Pertama, disebabkan oleh letusan gunung Merapi yang mengeluarkan lahar. Kemudian lahar tersebut menimbun candi-candi yang didirikan oleh kerajaan, sehingga candi-candi tersebut menjadi rusak. 

Kedua, runtuhnya kerajaan Mataram disebabkan oleh krisis politik yang terjadi tahun 927-929 M. Ketiga, runtuhnya kerajaan dan perpindahan letak kerajaan dikarenakan pertimbangan ekonomi. 

Di Jawa Tengah daerahnya kurang subur, jarang terdapat sungai besar dan tidak terdapatnya pelabuhan strategis. Sementara di Jawa Timur, apalagi di pantai selatan Bali merupakan jalur yang strategis untuk perdagangan, dan dekat dengan daerah sumber penghasil komoditi perdagangan.

Mpu Sindok mempunyai jabatan sebagai Rake I Hino ketika Wawa menjadi raja di Mataram, lalu pindah ke Jawa timur dan mendirikan dinasti Isyana di sana dan menjadikan Walunggaluh sebagai pusat kerajaan. 

Mpu Sindok yang membentuk dinasti baru, yaitu Isanawangsa berhasil membentuk Kerajaan Mataram sebagai kelanjutan dari kerajaan sebelumnya yang berpusat di Jawa Tengah. Mpu Sindok memerintah sejak tahun 929 M sampai dengan948 M.

Sumber sejarah yang berkenaan dengan Kerajaan Mataram di Jawa Timur antara lain prasasti Pucangan, prasasti Anjukladang dan Pradah, prasasti Limus, prasasti Sirahketing, prasasti Wurara, prasasti Semangaka, prasasti Silet, prasasti Turun Hyang, dan prasasti Gandhakuti yang berisi penyerahan kedudukan putra mahkota oleh Airlangga kepada sepupunya yaitu Samarawijaya putra Teguh Dharmawangsa.

Peninggalan Kerajaan Mataram Kuno

Peninggalan Kerajaan Mataram Kuno

Berikut beberapa peninggalannya.

1. Prasasti Canggal

Sebuah prasasti dengan ukiran angka 654 Saka atau 732 M, bertuliskan huruf Pallawa dan Sansakerta, ditemukan di Magelang Jawa Tengah.

2. Prasasti Kelurak

Prasasti yang bercerita mengenai sebuah bangunan suci ini bertuliskan angka 782 M, ditemukan di Desa Kelurak Percandian Prambanan, Jawa Tengah.

3. Prasasti Mantyasih

Prasasti yang berisikan mengenai silsilah kerajaan Mataram sebelum Raja Balitung ini, ditemukan di perkampungan Mateseh Jawa Tengah.

4. Prasasti Sojomerto

Prasasti peninggalan bangsa Syailendra ini tidak memuat tahun di dalamnya, bertuliskan aksara Kawi dan bahasa Melayu Kuno, ditemukan di Kabupaten Batang Jawa Tengah.

5. Prasasti Tri Tepusan

Berisikan mengenai pemberian tanah Sri Kaluhun kepada Desa Tri Tepusan prasasti ini menyebutkan tahun 842 M, duplikat prasasti ini juga sudah ada di museum candi Borobudur.

6. Prasasti Wanua Tengah III

Prasasti ini memuat nama-nama raja Mataram secara lengkap sebelum masa Raja Rake Watukara, ditemukan di Desa Gandula Kota Tamanggung pada tahun 1983.

7. Prasasti Rukun

Prasasti ini menuliskan angka tahun 907 Masehi atau 829 Saka, ditemukan di Jawa Tengah tahun 1975, prasasti ini menggunakan bahasa Jawa Kuno.

8. Prasasti Plumpungan

Prasasti ini memuat tulisan angka tahun 750 M yang diketahui sebagai berdirinya kota Salatiga, ditemukan di Desa Hampra kota Salatiga.

9. Prasasti Siwargrha

Prasasti ini memuat angka tahun 778 Saka atau 856 M, berisikan mengenai keterangan candi yang diberikan kepada dewa Siwa, prasasti ini berbahasakan Sansekerta.

10. Prasasti Gondosuli

Prasasti ini beraksara Kawi dan bahasa Melayu Kuno, bertuliskan angka tahun 792 Masehi, ditemukan di Tamanggung, Jawa Tengah.

11. Prasasti Kayuwumwungan

Prasasti ini disebut juga Karang tengah Prasasti Kayumwungan dengan bertuliskan bahasa Sansekerta, ditemukan di Tamanggung, Jawa tengah.

12. Prasasti Ngadoman

Prasasti ini dipercaya merupakan perantara antara aksara Budha dan aksara Jawa Kuno, ditemukan di kota Salatiga, Jawa Tengah.

13. Prasasti Kalasan

Prasasti ini memiliki tulisan tahun 700 Saka atau 778 Masehi, ditemukan di Sleman, Yogyakarta, prasasti ini merupakan peninggalan bangsa Sanjaya.

Selain prasasti, Kerajaan Mataram Kuno juga meninggalkan banyak candi yang tersebar di berbagai daerah. 

Berikut datar candi peninggalan Mataram Kuno :

Peninggalan Kerajaan Mataram Kuno

1. Candi Gatotkaca

Candi Gatotkaca berada di Dataran Tinggi Dieng, Banjarnegara, Jawa Tengah. Tepatnya di sebelah barat kompleks Candi Arjuna, tepi jalan menuju Candi Bima. Candi ini merupakan salah satu candi Hindu. Sedangkan untuk nama Gatotkaca sendiri diambil dari tokoh wayang yang ada di cerita Mahabarata.

2. Candi Arjuna

Candi Arjuna memiliki bentuk yang mirip dengan candi di kompleks Gedong Songo. Bangunan Candi ini berbentuk persegi dengan luas kurang lebih 4 m2.

3. Candi Bima

Candi Bima terletak di Desa Dieng Kulon, Kec. Batur, Kab, Banjarnergara, Jawa Tengah. Candi ini berada di wilayah percandian paling selatan.

Bentuk candi ini sangat unik karena memiliki kemiripan arsitektur beberapa candi di India. Bagian atap hampir sama dengan shikara dan memiliki bentuk seperti mangkuk terbalik. Selain itu di bagian atap ini juga ditemukan relung dan relief kepala yang disebut kudu.

4. Candi Borobudur

Candi Borobudur merupakan peninggalan Mataram Kuno yang sudah terkenal di dunia. Bangunan Candi ini terletak di Magelang, Jawa Tengah. Dan seperti yang kita tahu bahwa Candi Borobudur ini merupakan candi Budha terbesar.

5. Candi Mendut

Candi Mendut merupakan candi agama Budha yang dibangun sejaka Mataram Kuno dipimpin oleh Raja Idna dari dinasti Syailendra. Sama seperti Candi Borobudur, Candi ini terletak di Magelang, Jawa Tengah.

6. Candi Pawon

Candi Pawon terletak di Magelang, Jawa Tengah. Jika dilihat dari atas, Candi ini akan terlihat berada dalam satu garis lurus dengan Candi Borobudur dan Candi Mendut.

7. Candi Puntadewa

Candi Puntadewa terletak di kompleks candi Arjuna, Dieng. Bangunan Candi ini berukuran kecil namun tinggi.

8. Candi Semar

Candi Semar berada di hadapan candi Arjuna. Bentuknya segiempat membujur arah utara-selatan.


Nah itulah sejarah Kerajaan Mataram Kuno secara lengkap. Hingga peningggalan berupa candi dan prasasti yang masih ada hingga kini. Sekian pembahasan kali ini semoga bermanfaat dan terimakasih sudah mampir, jangan lupa share dan komentar dibawah ya...

[LENGKAP] Kerajaan Sriwijaya : Sejarah, Letak, Raja, Kejayaan, Keruntuhan dan Peninggalan

Sejarah berdirinya Nusantara tentu tidak lepas dari perjuangan para pahlawan. Selain perjuangan para pahlawan, tentunya kerajaan-kerajaan yang ada di Indonesia juga memiliki pengaruh besar terhadap sejarah Indonesia. Salah satu kerajaan besar yang ada di Indonesia adalah kerajaan Sriwijaya.

Kerajaan Sriwijaya merupakan kerajaan Melayu yang berada di pulau Sumatera serta memiliki pengaruh besar terhadap Nusantara. Nama kerajaan ini berasal dari Bahasa Sansekerta, sri artinya bercahaya dan wijaya yang memiliki arti kemenangan. Sehingga arti nama kerajaan ini berarti kemenangan yang bercahaya.

[LENGKAP] Kerajaan Sriwijaya : Sejarah, Letak, Raja, Kejayaan, Keruntuhan dan Peninggalan

Daerah kekuasaan Kerajaan Sriwijaya yang meliputi Kamboja, Thailand, Semenanjung Malaya, bahkan hingga Pulau Jawa ini membuat nama Kerajaan Sriwijaya dikenal di seluruh Nusantara. Tidak hanya dari Nusantara saja, akan tetapi juga kerajaan ini dikenal hingga ke mancanegara.

Hal ini dibuktikan dengan adanya berbagai sumber yang menyebutkan adanya kerajaan di Sumatera ini. Ada kabar yang mengatakan bahwa para pedagang dari Arab dan Cina pernah berdagang di Sriwijaya. Sedangkan menurut berita dari India, kerajaan di India pernah bekerja sama dengan kerajaan Sriwijaya.

Letak Kerajaan Sriwijaya

Letak Kerajaan Sriwijaya

Berdasarkan observasi sekitar tahun 1993, Pierre-Yves Manguin menyimpulkan bahwa pusat Sriwijaya berada di Sungai Musi antara Bukit Seguntang dan Sabokingking (terletak di provinsi Sumatra Selatan sekarang), tepatnya di sekitar situs Karanganyar yang kini dijadikan Taman Purbakala Kerajaan Sriwijaya.

Raja Kerajaan Sriwijaya

Raja Kerajaan Sriwijaya

Raja Kerajaan Sriwijaya yang berhasil menaklukkan Jawa dan Melayu adalah Dapunta Hyang atau Sri Jayanasa dan memimpin pada tahun 671. Lalu pada tahun 728 hingga 742, Sriwijaya dipimpin oleh Rudra Wikrama yang melakukan utusan ke Tiongkok pada masa kepemimpinannya.

Pada tahun 702, Sriwijaya dipimpin oleh Sri Indrawarman dan dilanjutkan oleh Sri Maharaja pada tahun 775. Berkat kepemimpinannya, Kamboja dan Thailand berhasil ditaklukkan oleh Sriwijaya. Tahun 851, Sriwijaya dipimpin oleh Maharaja yang dilanjutkan oleh Balaputra Dewa di tahun 860 Masehi.

Raja Kerajaan Sriwijaya yang selanjutnya adalah Sri Udayadityawarman yang memimpin kerajaan pada tahun 960 Masehi dan dilanjutkan oleh Sri Udayaditya pada tahun 962 Masehi. Kepemimpinan Sriwijaya dilanjutkan oleh Sri Sudamaniwarmadewa dan Marawijayatunggawarman pada tahun 1044 masehi.

Kepemimpinan Raja Kerajaan Sriwijaya yang terakhir adalah Sri Sanggaramawijayatunggawarman pada tahun 1044 Masehi. Berkat kepemimpinannya, Sriwijaya berhasil ditaklukkan oleh India.

Berikut ini terdapat beberapa raja-raja yang memerintah kerajaan sriwijaya, antara lain : 
  1. Srijayanasa (Dapunta Hyang), berkuasa pada tahun 671
  2. Rudra Vikraman (Lieou Teng Wei Kong), tahun 728
  3. Sri lndrawarman (Shih Li T'o Pa Mo), Tahun 708
  4. Sri Maharaja, berkuasa dari tahun 775
  5. Rakai Panangkaran, raja dari tahun 778
  6. Samaragrawira, 782
  7. Samaratungga, 792
  8. Balaputradewa, berkuasa pada tahun 856
  9. Sri Udayaditya Warmadewa
  10. Sri Caudamani Warmandewa
  11. Sri Mara Vijayottunggawaran
  12. Sangrama Vijayottunggawaran
  13. Srimat Trailokyaraja Maulibhusana Warmadewa

Kehidupan Politik Kerajaan Sriwijaya

Kehidupan Politik Kerajaan Sriwijaya

Penguasa atau Raja di Kerajaan Sriwijaya disebu Maharaja atau Dapunta Hyang. Jabatan-jabatan lain dibawah raja seperti putra mahkota (Yuvaraja), putra mahkota 2 (Pratiyuvaraja) dan pewaris-pewaris selanjutnya disebut (Rajakumara). Informasi terkait dengan kehidupan politik dapat kita ketahui dari isi prasasti Telaga Batu. Disitu dijelaskan mengenai struktur jabatan dalam pemerintahan Kerajaan Sriwijaya. 

Selain berisi jabatan dalam struktur pemerintahan, diceritakan juga mengenai kutukan raja bagi yang menentangnya dan kehidupan sosial ekonomi berupa pekerjaan yang ada pada saat itu. 

Masa Kejayaan Kerajaan Sriwijaya

Masa Kejayaan Kerajaan Sriwijaya

Sebuah kerajaan yang besar tentunya memiliki sejarah jaya dan runtuhnya yang tentu akan selalu diingat oleh masyarakat Indonesia. Sejarah masa kejayaan kerajaan Sriwijaya dimulai sekitar abad ke 9 hingga abad ke 10 di mana saat itu kerajaan ini berhasil menguasai jalur perdagangan maritim Asia Tenggara.

Tidak hanya perdagangan maritim saja, akan tetapi juga berbagai kerajaan di Asia Tenggara berhasil dikuasai oleh Sriwijaya. Kerajaan di Thailand, Kamboja, Filipina, Vietnam, hingga Sumatera dan Jawa berhasil dikuasai Sriwijaya.

Masa kejayaan Kerajaan Sriwijaya menjadi pengendali rute perdagangan lokal yang mana waktu itu seluruh kapal yang lewat akan dikenakan bea cukai. Mereka juga berhasil mengumpulkan kekayaan mereka dari gudang perdagangan serta melalui jasa pelabuhan.

Sayangnya, masa kejayaan Kerajaan Sriwijaya harus berakhir sekitar tahun 1007 dan 1023 Masehi. Bermula ketika Raja Rajendra Chola, seorang penguasa Kerajaan Cholamandala berhasil menyerang Sriwijaya dan berhasil merebut bandar-bandar kota Sriwijaya.

Terjadinya penyerangan ini karena kedua kerajaan ini saling bersaing pada bidang pelayaran serta perdagangan. Kerajaan Cholamandala bukan berniat untuk menjajah, akan tetapi ingin meruntuhkan armada kerajaan. Sehingga membuat kondisi ekonomi pada saat itu melemah serta berkurangnya pedagang.

Tidak hanya itu, kekuatan militer kerajaan juga melemah dan membuat prajurit Sriwijaya melepaskan diri dari kerajaan. Hingga, masa kejayaan Kerajaan Sriwijaya berakhir sekitar abad ke-13.

Masa Keruntuhan Kerajaan Sriwijaya

Masa Keruntuhan Kerajaan Sriwijaya

Berikut ini terdapat beberapa keruntuhan kerajaan sriwijaya, antara lain: 
  • Akibat serangan dari India, saat itu yang menjadi raja Kerajaan Sriwijaya adalah Sri Sundamani Warmadewa. serangan tersebut berhasil melemahkan Kerajaan Sriwijaya.
  • Melemahnya Sriwijaya karena terjadi ekspedisi besar-besaran ke semenanjung Malaya yang diperintahkan oleh raja Kertanegara.
  • Munculnya kerajaan islam baru, yaitu Samudra Pasai, yang membuat melemahnya Kerajaan Sriwijaya.
  • Serangan pada tahun 1023 dan 1030, serangan tersebut berhasil menawan Raja Kerajaan Sriwijaya.
  • Serangan dari Kerajaan Majapahit pada tahun 1477, yang mengakibatkan Kerajaan Sriwijaya takluk.

Peninggalan Kerajaan Sriwijaya

Peninggalan Kerajaan Sriwijaya

Sebagai kerajaan yang pernah jaya di Nusantara, tentunya peninggalan kerajaan Sriwijaya tersebar di seluruh daerah kekuasaan mereka. Salah satu jenis peninggalan kerajaan Sriwijaya yang masih ada hingga saat ini adalah berupa prasasti. Berikut ini merupakan prasasti peninggalan kerajaan Sriwijaya.

1. Prasasti Kota Kapur

Prasasti Kota Kapur merupakan prasasti peninggalan kerajaan Sriwijaya yang berada di bagian Barat Pulau Bangka. Bahasa yang ditulis pada prasasti ini menggunakan bahasa Melayu Kuno serta menggunakan aksara Pallawa. Prasasti ini ditemukan sekitar tahun 1892 bulan Desember.

Orang yang berhasil menemukan prasasti ini adalah J.K. van der Meulen. Prasasti ini berisi tentang kutukan bagi siapa saja yang membantah perintah serta kekuasaan kerajaan akan terkena kutukan.

2. Prasasti Kedukan Bukit

Seseorang bernama Batenburg menemukan sebuah batu tulis yang berada di Kampung Kedukan Bukit, Kelurahan 35 Ilir pada 29 November 1920 Masehi. Ukuran dari prasasti ini adalah sekitar 45 x 80 centimeter serta ditulis menggunakan aksara Pallawa dan bahasa Melayu Kuno.

Prasasti ini berisi tentang seorang utusan kerajaan yang bernama Dapunta Hyang yang melakukan perjalanan suci atau sidhayarta dengan menggunakan perahu. Dengan diiringi 2000 pasukan, perjalanannya membuahkan hasil. Saat ini, prasasti Kedukan Bukit disimpan di Museum Nasional Indonesia.

3. Prasasti Telaga Batu

Prasasti ini ditemukan di sekitar kolam Telaga Biru, Kelurahan 3 Ilir, Kecamatan Ilir Timur II, Palembang. Isi dari prasasti ini adalah mengenai kutukan bagi mereka yang berbuat jahat di Sriwijaya. Keberadaan prasasti ini sama seperti prasasti Kedukan Bukit, yaitu disimpan di Museum Nasional Indonesia.

4. Prasasti Talang Tuwo

Residen Palembang, yaitu Louis Constant Westenenk menemukan prasasti pada 17 November 1920. Prasasti ini ditemukan di kaki Bukit Seguntang di sekitar tepian utara Sungai Musi. Isi dari prasasti ini berisi doa-doa dedikasi dan menunjukkan berkembangnya agama Buddha di Sriwijaya.

Aliran yang digunakan di Sriwijaya adalah aliran Mahayana yang dibuktikan dengan kata-kata dari Buddha Mahayana seperti bodhicitta, vajrasarira, dan lain-lain.

5. Prasasti Ligor

Prasasti yang ditemukan di Thailand Selatan ini memiliki dua sisi, yaitu sisi A dan sisi B. Pada sisi A menjelaskan tentang gagahnya raja Sriwijaya. Dalam prasasti tersebut ditulis bahwa raja Sriwijaya merupakan raja dari segala raja dunia yang sudah mendirikan Trisamaya Caiya bagi Kajara.

Sedangkan untuk sisi B atau yang disebut prasasti ligor B berisi mengenai pemberian gelar Visnu Sesawarimadawimathana. Gelar tersebut diberikan kepada Sri Maharaja yang mana berasal dari keluarga Sailendravamasa.

6. Prasasti Palas Pasemah

Prasasti Palas Pasemah merupakan prasasti yang berhasil ditemukan di desa Palas Pasemah, Lampung Selatan. Bahasa yang digunakan pada prasasti ini menggunakan bahasa Melayu Kuno dengan aksara Pallawa serta tersusun atas 13 baris kalimat.

Isi dari prasasti ini berisi tentang kutukan terhadap orang yang tidak tunduk pada kekuasaan Sriwijaya. Diperkirakan, prasasti ini berasal dari abad ke-7 Masehi. Konon, prasasti ini ditemukan di sebuah pinggiran rawa desa.

7. Prasasti Karang Birahi

Kontrolir L.M. Berkhout menemukan prasasti Karang Birahi pada tahun 1904 di sekitar tepian Batang Merangin, Jambi. Isi dari prasasti Karang Birahi juga kurang lebih hampir sama dengan prasasti di poin sebelumnya, yaitu mengenai kutukan bagi mereka yang tidak tunduk terhadap Sriwijaya.

Penutup

Kerajaan Sriwijaya merupakan kerajaan yang pernah jaya pada masanya. Bahkan, kerajaan ini dikenal hingga ke mancanegara. Berbagai berita luar negeri, mulai dari Arab hingga Cina membicarakan kerajaan yang berada di Pulau Sumatera ini.

Selain itu, jayanya kerajaan ini dibuktikan dari peninggalan kerajaan Sriwijaya yang berupa prasasti. Peninggalan tersebut berhasil ditemukan di berbagai tempat sekaligus menjadi bukti bahwa Kerajaan Sriwijaya ada dan pernah menguasai Asia.

[LENGKAP] Sejarah Kerajaan Kahuripan

Raja Kerajaan Medang yang terakhir bernama Dharmawangsa Teguh, saingan berat Kerajaan Sriwijaya. Pada tahun 1006 Raja Wurawari dari Lwaram (sekutu Sriwijaya) menyerang Watan, ibu kota Kerajaan Medang, yang tengah mengadakan pesta perkawinan. Dharmawangsa Teguh tewas, sedangkan keponakannya yang bernama Airlangga lolos dalam serangan itu.

Airlangga adalah putera pasangan Mahendradatta (saudari Dharmawangsa Teguh) dan Udayana raja Bali. Ia lolos ditemani pembantunya yang bernama Narotama. Sejak saat itu Airlangga menjalani kehidupan sebagai pertapa di hutan pegunungan (wonogiri/vana giri).

arca airlangga

Pada tahun 1009, datang para utusan rakyat meminta agar Airlangga membangun kembali Kerajaan Medang. Karena kota Watan sudah hancur, maka, Airlangga pn membangun ibu kota baru bernama Watan Mas di dekat Gunung Penanggungan.

Pada mulanya wilayah kerajaan yang diperintah Airlangga hanya meliputi daerah Gunung Penanggungan dan sekitarnya, karena banyak daerah-daerah bawahan Kerajaan Medang yang membebaskan diri. Baru setelah Kerajaan Sriwijaya dikalahkan Rajendra Coladewa raja Colamandala di India tahun 1023. Airlangga merasa leluasa membangun kembali kejayaan Wangsa Isyana.

Ketika Airlangga naik takhta tahun 1009, wilayah kerajaannya hanya meliputi daerah Sidoarjo dan Pasuruan saja, karena sepeninggal Dharmawangsa Teguh, banyak daerah bawahan yang melepaskan diri. Mula-mula yang dilakukan Airlangga adalah menyusun kekuatan untuk menegakkan kembali kekuasaan Wangsa Isyana atas pulau Jawa.

Pada tahun 1023 Kerajaan Sriwijaya yang merupakan musuh besar Wangsa Isyana dikalahkan Rajendra Coladewa raja Colamandala dari India. Hal ini membuat Airlangga merasa lebih leluasa mempersiapkan diri menaklukkan pulau Jawa.

Yang pertama dikalahkan oleh Airlangga adalah Raja Hasin. Pada tahun 1030 Airlangga mengalahkan Wisnuprabhawa raja Wuratan, Wijayawarma raja Wengker, kemudian Panuda raja Lewa.

Pada tahun 1031 putra Panuda mencoba membalas dendam namun dapat dikalahkan oleh Airlangga. Ibu kota Lewa dihancurkan pula.

Pada tahun 1032 seorang raja wanita dari daerah Tulungagung sekarang berhasil mengalahkan Airlangga. Istana Watan Mas dihancurkannya. Airlangga terpaksa melarikan diri ke desa Patakan ditemani Mapanji Tumanggala.

Airlangga membangun ibu kota baru di Kahuripan. Raja wanita dapat dikalahkannya. Dalam tahun 1032 itu pula Airlangga dan Mpu Narotama mengalahkan Raja Wurawari, membalaskan dendam Wangsa Isyana.

Terakhir tahun 1035 Airlangga menumpas pemberontakan Wijayawarma raja Wengker yang pernah ditaklukannya dulu. Wijayawarma melarikan diri dari kota Tapa namun kemudian mati dibunuh rakyatnya sendiri.

Nama Kahuripan inilah yang kemudian lazim dipakai sebagai nama kerajaan yang dipimpin Airlangga.Pusat kerajaan Airlangga kemudian dipindah lagi ke Daha, berdasarkan prasasti Pamwatan, 1042 dan Serat Calon Arang.

Prasasti Kamalagyan

Calon Arang ini diceritakan adalah dukun perempuan sakti yang sempat membikin onar dengan melakukan teluh yang menciptakan wabah penyakit…banyak warga Kahuripan yang tewas karena teluhnya. Dalam legenda, teluh ini berhasil dilenyapkan setelah Airlangga meminta tolong kepada Mpu Bharadah yang kemudian membasmi Calon Arang beserta murid-muridnya.

Setelah keadaan aman, Airlangga mulai mengadakan pembangunan-pembangunan demi kesejahteraan rakyatnya. Pembangunan yang dicatat dalam prasasti-prasasti peninggalannya antara lain.
  • Membangun Sri Wijaya Asrama tahun 1036.
  • Membangun bendungan Waringin Sapta tahun 1037 untuk mencegah banjir musiman.
  • Memperbaiki pelabuhan Hujung Galuh, yang letaknya di muara Kali Brantas, dekat Surabaya sekarang.
  • Membangun jalan-jalan yang menghubungkan daerah pesisir ke pusat kerajaan.
  • Meresmikan pertapaan Gunung Pucangan tahun 1041.
  • Memindahkan ibu kota dari Kahuripan ke Daha, berdasarkan prasasti Pamwatan, 1042 dan Serat Calon Arang.
Calon Arang ini diceritakan adalah dukun perempuan sakti yang sempat membikin onar dengan melakukan teluh yang menciptakan wabah penyakit…banyak warga Kahuripan yang tewas karena teluhnya. Dalam legenda, teluh ini berhasil dilenyapkan setelah Airlangga meminta tolong kepada Mpu Bharadah yang kemudian membasmi Calon Arang beserta murid-muridnya.

Pada akhir pemerintahannya, Airlangga berhadapan dengan masalah persaingan perebutan takhta antara kedua putranya. Calon raja yang sebenarnya, anak pertamanya yaitu Sanggramawijaya Tunggadewi (Dewi Kilisuci), memilih menjadi pertapa dari pada naik takhta.

Berhubung Airlangga juga putra sulung raja Bali, maka ia pun berniat menempatkan salah satu putrnya di pulau itu.Mpu Bharada dikirim ke Bali menyampaikan maksud tersebut. Dalam perjalanan menyeberang laut, Mpu Bharada cukup dengan menumpang sehelai daun. Sesampainya di Bali permintaan Airlangga yang disampaikan Mpu Bharada ditolak oleh Mpu Kuturan, yang berniat mengangkat cucunya sebagai raja Bali. Raja Bali saat itu adalah Anak Wungsu, adik ketiga Airlangga sendiri.

Pada akhir November 1042, Airlangga terpaksa membagi kerajaannya menjadi dua, yaitu bagian barat bernama Kadiri beribu kota di Daha, diserahkan kepada Sri Samarawijaya, serta bagian timur bernama Janggala beribu kota di Kahuripan, diserahkan kepada Mapanji Garasakan.

Dalam Negarakertagama, pembagian wilayah ini dilakukan oleh Mpu Bharadah, tokoh sakti yang juga menjadi guru Airlangga. Empu Bharada menyanggupinya dan melaksanakan titah tersebut dengan cara menuangkan air kendi dari ketinggian. Air tersebut konon berubah menjadi sungai yang memisahkan Kerajaan Panjalu (Kediri) dan Kerajaan Jenggala. 

Letak dan nama sungai ini belum diketahui dengan pasti sampai sekarang, tetapi beberapa ahli sejarah berpendapat bahwa sungai tersebut adalah Sungai Lekso (masyarakat sekitar menyebutnya Kali Lekso). Pendapat tersebut didasarkan atas dasar etimologis mengenai nama sungai yang disebutkan dalam Kitab Pararaton.

Tidak diketahui dengan pasti kapan Airlangga meninggal. Prasasti Sumengka (1059) peninggalan Kerajaan Janggala hanya menyebutkan, Resi Aji Paduka Mpungku dimakamkan di tirtha atau pemandian.

Kolam pemandian yang paling sesuai dengan berita prasasti Sumengka adalah Candi Belahan di lereng Gunung Penanggungan. Pada kolam tersebut ditemukan arca Wisnu disertai dua dewi. 

Candi Belahan

Berdasarkan prasasti Pucangan (1041) diketahui Airlangga adalah penganut Hindu Wisnu yang taat. Maka, ketiga patung tersebut dapat diperkirakan sebagai lambang Airlangga dengan dua istrinya, yaitu ibu Sri Samarawijaya dan ibu Mapanji Garasakan.

[LENGKAP] Sejarah Kerajaan Kanjuruhan

Kanjuruhan adalah sebuah kerajaan bercorak Hindu di Jawa Timur, yang pusatnya berada di dekat Kota Malang sekarang. Kanjuruhan diduga telah berdiri pada abad ke-8 Masehi (masih sezaman dengan Kerajaan Taruma di sekitar Bekasi dan Bogor sekarang). 

Bukti tertulis mengenai kerajaan ini adalah Prasasti Dinoyo. Rajanya yang terkenal adalah Gajayana. Peninggalan lainnya adalah Candi Badut dan Candi Karangbesuki.

[LENGKAP] Sejarah Kerajaan Kanjuruhan

Jaman dahulu, ketika Pulau Jawa diperintah oleh raja-raja yang tersebar di daerah-daerah, seperti Raja Purnawarman memerintah di Kerajaan Tarumanegara; Maharani Shima memerintah di Kerajaan Kalingga (atau "Holing"); dan Raja Sanjaya memerintah di Kerajaan Mataram Kuno, di Jawa Timur terdapat pula sebuah kerajaan yang aman dan makmur. 

Kerajaan itu berada di daerah Malang sekarang, di antara Sungai Brantas dan Sungai Metro, di dataran yang sekarang bernama Dinoyo, Merjosari, Tlogomas, dan Ketawanggede di Kecamatan Lowokwaru, Malang. Kerajaan itu bernama Kanjuruhan.

Bagaimana Kerajaan Kanjuruhan itu bisa berada dan berdiri di lembah antara Sungai Brantas dan Kali Metro di lereng sebelah timur Gunung Kawi, yang jauh dari jalur perdagangan pantai atau laut? Kita tentunya ingat bahwa pedalaman Pulau Jawa terkenal dengan daerah agraris, dan di daerah agraris semacam itulah muncul pusat-pusat aktivitas kelompok masyarakat yang berkembang menjadi pusat pemerintahan. 

Rupa-rupanya sejak awal abad masehi, agama Hindu dan Buddha yang menyebar di seluruh kepulauan Indonesia bagian barat dan tengah, pada sekitar abad ke VI dan VII M sampai pula di daerah pedalaman Jawa bagian timur, antara lain Malang. Karena Malang-lah kita mendapati bukti-bukti tertua tentang adanya aktivitas pemerintahan kerajaan yang bercorak Hindu di Jawa bagian timur.

Bukti itu adalah prasasti Dinoyo yang ditulis pada tahun Saka 682 (atau kalau dijadikan tahun masehi ditambah 78 tahun, sehingga bertepatan dengan tahun 760 M). Disebutkan seorang raja yang bernama Dewa Singha, memerintah keratonnya yang amat besar yang disucikan oleh api Sang Siwa. 

Raja Dewa Singha mempunyai putra bernama Liswa, yang setelah memerintah menggantikan ayahnya menjadi raja bergelar Gajayana. Pada masa pemerintahan Raja Gajayana, Kerajaan Kanjuruhan berkembang pesat, baik pemerintahan, sosial, ekonomi maupun seni budayanya. 

Dengan sekalian para pembesar negeri dan segenap rakyatnya, Raja Gajayana membuat tempat suci pemujaan yang sangat bagus guna memuliakan Resi Agastya. Sang raja juga menyuruh membuat arca sang Resi Agastya dari batu hitam yang sangat elok, sebagai pengganti arca Resi Agastya yang dibuat dari kayu oleh nenek Raja Gajayana.

Dibawah pemerintahan Raja Gajayana, rakyat merasa aman dan terlindungi. Kekuasaan kerajaan meliputi daerah lereng timur dan barat Gunung Kawi. Ke utara hingga pesisir laut Jawa. Keamanan negeri terjamin. Tidak ada peperangan. 

Jarang terjadi pencurian dan perampokan, karena raja selalu bertindak tegas sesuai dengan hukum yang berlaku. Dengan demikian rakyat hidup aman, tenteram, dan terhindar dari malapetaka.

Raja Gajayana hanya mempunyai seorang putri, bernama Uttejana, seorang putri pewaris tahta Kerajaan Kanjuruhan. Ketika dewasa, ia dijodohkan dengan seorang pangeran dari Paradeh bernama Pangeran Jananiya. 

Akhirnya Pangeran Jananiya bersama Permaisuri Uttejana, memerintah kerajaan warisan ayahnya ketika sang Raja Gajayana mangkat. Seperti para leluhurnya, mereka berdua memerintah dengan penuh keadilan. Rakyat Kanjuruhan semakin mencintai rajanya. 

Demikianlah, secara turun-temurun Kerajaan Kanjuruhan diperintah oleh raja-raja keturunan Raja Dewa Singha. Semua raja itu terkenal akan kebijaksanaannya, keadilan, serta kemurahan hatinya.

Pada sekitar tahun 847 Masehi, Kerajaan Mataram Kuno di Jawa Tengah diperintah oleh Sri Maharaja Rakai Pikatan Dyah Saladu, yang terkenal adil dan bijaksana. Dibawah pemerintahannya, Kerajaan Mataram berkembang pesat. 

Ia disegani oleh raja-raja lain di seluruh Pulau Jawa. Keinginan untuk memperluas wilayah Kerajaan Mataram Kuno selalu terlaksana, baik melalui penaklukan maupun persahabatan. Kerajaan Mataram Kuno terkenal di seluruh Nusantara, bahkan sampai ke mancanegara. Wilayahnya luas, kekuasaannya besar, tentaranya kuat, dan penduduknya sangat banyak.

Perluasan Kerajaan Mataram Kuno itu sampai pula ke Pulau Jawa bagian timur. Tidak ada bukti atau tanda bahwa terjadi penaklukan dengan peperangan antara Kerajaan Mataram Kuno dengan Kerajaan Kanjuruhan. 

Ketika Kerajaan Mataram Kuno diperintah oleh Sri Maharaja Rakai Watukura Dyah Balitung, raja Kanjuruhan menyumbangkan sebuah bangunan candi perwara (pengiring) di komplek Candi Prambanan yang dibangun oleh Sri Maharaja Rakai Pikatan tahun 856 M (dulu bernama “Siwa Greha”). Candi pengiring (perwara) itu ditempatkan pada deretan sebelah timur, tepatnya di sudut tenggara. 

Kegiatan pembangunan semacam itu merupakan suatu kebiasaan bagi raja-raja daerah kepada pemerintah pusat. Maksudnya agar hubungan kerajaan pusat dan kerajaan di daerah selalu terjalin dan bertambah erat.

Kerajaan Kanjuruhan saat itu praktis di bawah kekuasaan Kerajaan Mataram Kuno. Walaupun demikian Kerajaan Kanjuruhan tetap memerintah di daerahnya. Hanya setiap tahun harus melapor ke pemerintahan pusat. Di dalam struktur pemerintahan Kerajaan Mataram Kuno zaman Dyah Balitung, raja Kanjuruhan lebih dikenal dengan sebutan Rakryan Kanuruhan, artinya “Penguasa daerah” di Kanuruhan. 

Kanuruhan sendiri rupa-rupanya perubahan bunyi dari Kanjuruhan. Karena sebagai raja daerah, maka kekuasaan seorang raja daerah tidak seluas ketika menjadi kerajaan yang berdiri sendiri seperti ketika didirikan oleh nenek moyangnya dulu. Kekuasaaan raja daerah di Kanuruhan yang dapat diketahui waktu itu adalah daerah di lereng timur Gunung Kawi.

Jadi wilayah kekuasaan Rakryan Kanuruhan dapat dikatakan mulai dari daerah Landungsari (barat), Palowijen (utara), Pakis (timur), dan Turen (selatan). Istimewanya, selain berkuasa di daerahnya sendiri, pejabat Rakryan Kanuruhan ini juga menduduki jabatan penting dalam pemerintahan Kerajaan Mataram Kuno sejak zaman Raja Balitung, yaitu sebagai pejabat yang mengurusi urusan administrasi kerajaan.

Kekuasaan kerajaan Kanjuruhan

Daerah kekuasaan Rakryan Kanuruhan meliputi watak Kanuruhan. Watak adalah suatu wilayah yang luas, yang membawahi berpuluh-puluh wanua (desa). Jadi kemungkinan daerah Watak itu dapat ditentukan hampir sama atau setingkat dengan kabupaten saat ini. 

Dengan demikian Watak Kanuruhan membawahi wanua-wanua (desa-desa) yang terhampar seluas lereng sebelah timur Gunung Kawi sampai lereng barat Pegunungan Tengger-Semeru ke selatan hingga pantai selatan Pulau Jawa.

Menurut sumber tertulis berupa prasasti yang ditemukan di sekitar Malang, nama-nama desa (wanua) yang berada di wilayah (watak) Kanuruhan adalah sebagai berikut:
  • Daerah Balingawan (sekarang Desa Mangliawan,Kecamatan Pakis),
  • Daerah Turryan (sekarang Desa Turen, Kecamatan Turen),
  • Daerah Tugaran (sekarang Dukuh Tegaron, Kelurahan Lesanpuro),
  • Daerah Kabalon (sekarang Dukuh Kabalon Cemarakandang),
  • Daerah Panawijyan (sekarang Kelurahan Palowijen, Kecamatan Blimbing),
  • Daerah Bunulrejo (yang dulu bukan bernama Desa Bunulrejo pada zaman Kerajaan Kanuruhan), dan
  • Daerah-daerah di sekitar Malang Barat seperti: Wurandungan (sekarang Dukuh Kelandungan – Landungsari), Karuman, Merjosari, Dinoyo, Ketawanggede, yang di dalam beberapa prasasti disebut-sebut sebagai daerah tempat gugusan kahyangan (bangunan candi) di dalam Watak Kanuruhan.

Nama Raja-Raja Kerajaan Kanjuruhan :

  • Dewa Singha
  • Gajayana
  • Pangeran Jananiya

Keadaan Sosial Budaya, Ekonomi

Keadaan Sosial – Budaya

Rakyatnya sudah kenal tulis menulis dan ilmu perbintangan, menandakan bahwa rakyatnya sudah berkebudayaan maju, rakyatnya pun sangat patuh terhadap peraturan dan ratunya.

Keadaan Ekonomi

Kerajaan Kaling Mata pencaharian penduduknya sebagai besar bertanai, karena wilayah Kaling dikatakan subur untuk segi pertanian. Perekonomian sudah banyak penduduk yang melakukan perdagangan apalagi disebutkan ada hubungan dengan Cina. Berita cina juga menyebutkan bahwa barang yang banyak diperdagangkan ialah emas, perak, cula badak, dan gading gajah.

Puncak Kejayaan

Kerajaan pertama kanjuruhan bernama Dewa Simhadan setelah wafat, tahta kerajaan digantikan oleh putranya yang bernama 0iswa dengan gelar Gajayana,yang memerintah dengan adil. ia mendirikan tempat pemujaan untuk dewa Agastya 760 M dan menyerahkan hadiah berupa tanah dan lembu.

Di bawah pemerintahan Raja Gajayana, Kekuasaan kerajaan meliputi daerah lereng timur dan baray Gunung Kawi. Ke utara hingga pesisir laut Jawa. Keamanan negeri terjamin, tidak ada peperangan, jarang terjadi pencurian dan perampokan, karena raja selalu bertindaj tegas sesuai dengan hukum yang berlaku. 

Secara turun-temurun Kerajaan Kanjuruhan diperintah oleh raja-raja keturunan raja Dewa Singha, semua raja itu terkenal akan kebijaksanaannya keadilan serta kemurahan hatinya.

Keruntuhan Kerajaan Kanjuruhan,

Pada sekitar tahun 847 Masehi, Kerajaan Mataram Kuno berkembang pesat kekuasaannya sangat besar. Perluasan wilayah Kerajaan Mataram Kuno pun dilaksanakan melalui penaklukan maupun persahabatan. 

Perluasan Kerajaan Mataram Kuno itu sampai pula ke Pulau Jawa bagian timur, walau tidak ada bukti atau tanda bahwa terjadi penaklukan dengan peperangan antara Kerajaan Mataram Kuno dengan Kerajaan Kanjuruhan.

Kerajaan Kanjuruhan saat itu menjadi dibawah kekuasaan Kerajaan Mataram Kuno. Walaupun demikian Kerajaan Kanjuruhan tetap memerintah di daerahnya. Adapun raja Kerajaan Kanjuruhan dianggap sebagai raja bawahan dengan gelar Rakai Kanjuruhan.

Peninggalan kerajaan kanjuruhan

Peninggalan kerajaan kanjuruhan
  • prasasti dinoyo yang ditemukan di desa merjosari di kawasan kampus III universitas muhammadiyah. berisi tentang masa keemasan dari kerajaan kanjuruhan.
Peninggalan kerajaan kanjuruhan
  • prasasti sangguran(batu mito) dari ngandat, Malang, Jawa timur. Berisi tentang peresmian desa sangguran menjadi sima (tanah yang dicagarkan).