[LENGKAP] Kisah Dewi Nagagini

Nagagini adalah puteri Sang Hyang Antaboga, seorang Dewa ular, yang bertahta di Saptapratala atau bumi lapis yang ke tujuh.

Dewi Nagagini berparas cantik jelita, namun karena keturunan Dewa Ular, pada saat-saat tertentu, terutama ketika dipenuhi amarah, Ia berubah menjadi sosok ular yang sangat menyeramkan.

Kisah Dewi Nagagini

Pada suatu waktu di Sapatapratala atau bumi lapis yang ketujuh Hyang Antaboga sedang duduk dihadap Dewi Nagagini.

Dewi Nagagini melapor kepada ayahandanya bahwa tadi malam ia bermimpi bertemu dengan satria besar tinggi berwajah tampan dan berkulit kuning bernama Raden Bratasena. Ia minta dicarikan satria tersebut sampai dapat. Hyang antaboga menyanggupi dan Iapun segera berangkat.

Pada waktu itu Pandawa masih mengikuti binatang garangan putih yang menjadi penunjuk jalan Pandawa. Akan tetapi Binatang garangan itu berlari kencang dan tiba-tiba hilang.

Pandawa kebingungan dan berhenti berjalan untuk sementara sambil memikirkan jalan keluar.

Tiba-tiba tampak didepan mereka Dewa Hyang Antaboga.

Setelah mereka berkenalan mereka dipersilahkan turun ke Saptapratala.

Pandawa dijamu oleh Hyang Antaboga dan diperkenalkan kepada putri Hyang Antaboga yaitu Dewi Nagagini.

Mata Nagagini berbinar-binar melihat Bima. Pemuda di hadapannya yang pernah melintas di dalam mimpi tersebut benar-benar istimewa.

Di dalam darahnya telah mengalir Tirta Rasakundha, sebuah daya kekuatan yang hanya dimiliki oleh bangsa Naga.

Tirta Rasakundha ibarat benang merah yang menghubungkan naluri mereka, maka pantas saja ada getaran khusus di antara kedua hati yang saling menyenangkan, membahagiakan dan menentramkan.

Nagagini semakin percaya bahwasannya pertemuan ini telah diatur oleh Sang Hyang Widiwasa. Betapa indahnya hari itu. Saat mereka untuk pertamakali saling bertemu, saling mengenal dan terutama saling berbagi cinta, cinta antara pria dan wanita yang baru pertama kali ini bersemi, bahkan bersemi dengan cepat.

Hyang Antaboga berterus terang ingin menjodohkan anaknya Dewi Nagagini dengan Bima. Raden Bratasena/Bima menyatakan bersedia, maka dinikahkanlah Bratasena dengan Dewi Nagagini.

Kedua Pengantin ini hidup rukun. Kelak mereka akan dianugerahi seorang putera bernama Raden Antareja.

Pada saat Malam pengantin, pada saat Raden Bratasena dan Dewi Nagagini berada di kamar pengantin yang disebut “Pasamiran” cara Bratasena merayu istrinya lain daripada yang lain. Istrinya yang bertubuh kecil sangat cantik itu diontang-antingkan seperti barang akan dilempar.

Inang pengasuh Dewi Nagagini yang melihat kejadian ini segera melapor kepada Hyang Antaboga.

Hyang Antaboga terkejut, tidak mengira kalau Raden Bratasena berperangai kasar kepada istrinya dan segera merubah dirinya menjadi ular naga dan memasuki kamar “Pasamiran”, Namun disana dia mendapatkan anaknya Dewi Nagagini sedang dipangku dengan mesranya oleh Suaminya.

Dewi Nagagini yang tahu bahwa ular naga itu adalah ayahnya bertanya mengapa ayahnya memasuki pasamiran. Ular naga itu menjelaskan tentang laporan yang diterimanya dari inang pengasuh Dewi Nagagini.

Dewi Nagagini dengan tersipu-sipu menjelaskan bahwa ia merasa nikmat sekali diayun-ayun oleh suaminya dengan cara diontang-antingkan itu.

Dewa Hyang Antaboga yang sangat menyayangi anaknya itupun akhirnya mundur dan merubah rupa kembali menjadi manusia. Ia mengelus dada dan tersenyum memikirkan ulah anak-anak muda jaman sekarang.

Setelah beberapa waktu tinggal di Saptapratala, Dewi Kunti dan putra-putranya meminta diri. Hyang Antaboga mengijinkan.

Rombongan Pandawa dan Punakawan Semar Gareng Petruk dan Bagong itu segera kembali ke permukaan bumi melalui sumur Jalatunda.

No comments:

Post a Comment